Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

14 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Gerak Bersama Lawan Islamofobia Lewat Konferensi London

Rabu 15 Dec 2021 11:41 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Nashih Nashrullah

Dewan Hak Asasi Manusia Islam gelar konferensi kesadaran Islamofobia. Ilustrasi Islamofobia

Dewan Hak Asasi Manusia Islam gelar konferensi kesadaran Islamofobia. Ilustrasi Islamofobia

Foto: Christophe Petit/EPA
Dewan Hak Asasi Manusia Islam gelar konferensi kesadaran Islamofobia

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Dewan Hak Asasi Manusia Islam yang berbasis di London mengadakan kegiatan konferensi kesadaran Islamofobia. Acara tersebut berupaya menyatukan para cendekiawan dan saksi diskriminasi, untuk membahas jalan ke depan bagi umat Islam di mana pun. 

Kasus-kasus Islamofobia ada di mana-mana dan secara teratur muncul di halaman media massa. Pada 2015, Donald J Trump menyerukan penutupan total bagi Muslim yang akan memasuki Amerika Serikat. 

Baca Juga

Dari aula kekuasaan di Eropa, politisi sayap kanan Belanda Geert Wilders menyampaikan narasinya yang terkenal, “Apakah saya punya masalah dengan Islam? Ya, saya punya masalah dengan Islam.”  

Baru-baru ini, anggota kongres Amerika Serikat Lauren Boebert menjadi berita utama, setelah dia menyampaikan candaan tentang pertemuannya dengan sesama anggota kongres Ilhan Omar. 

Dia menggambarkan Omar dan Rashida Tlaib, dua wanita Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres, masuk ke lift tempat dia berada. Setelahnya, dia berkata, "Saya melihat ke kiri saya, dan itu dia. Ilhan Omar. Dan menurutku, dia tidak membawa ransel, kita seharusnya baik-baik saja." 

Dilansir di AhlulBayt News Agency (ABNA), Rabu (15/12), minoritas Muslim di mana-mana sedang mendiskusikan solusi untuk krisis ini. 

Pada konferensi kesadaran Islamofobia yang diselenggarakan Komisi Hak Asasi Manusia Islam di London, panel mempertanyakan 'Seberapa banyak minoritas Muslim dapat terlibat dengan pemerintah non-Muslim mereka tanpa mengorbankan keyakinan mereka'. 

Depolitisasi masjid dan generasi muda menjadi perhatian utama. Upaya untuk mencegah kaum muda mencari keadilan dan memerangi penindasan telah diintensifkan dan meningkatkan alarm kewaspadaan. 

Ekstremisme sayap kanan tumbuh di seluruh Eropa, terwujud dalam undang-undang anti-imigrasi, larangan aturan berpakaian Islami dan mendorong sentimen anti-Islam melalui media dan ruang digital. 

Dengan kondisi tersebut, mereka menilai diskusi terkait hal ini harus dilakukan, jika stereotip yang menargetkan Muslim ingin dikonfrontasi dan didekonstruksi. 

 

Sumber: abna  

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile