Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

 

21 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Teringat Final AFF 2016

Ahad 26 Dec 2021 23:00 WIB

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Gilang Akbar Prambadi

Egy Maulana Vikri dari Indonesia, kedua kanan, merayakan dengan rekan setimnya setelah mencetak gol keempat pada pertandingan leg kedua semifinal AFF Suzuki Cup 2020 antara Indonesia dan Singapura di Singapura, Sabtu, 25 Desember 2021.

Egy Maulana Vikri dari Indonesia, kedua kanan, merayakan dengan rekan setimnya setelah mencetak gol keempat pada pertandingan leg kedua semifinal AFF Suzuki Cup 2020 antara Indonesia dan Singapura di Singapura, Sabtu, 25 Desember 2021.

Foto: AP/Suhaimi Abdullah
Saat itu, penulis ditugaskan kantor terbang ke Bangkok untuk meliput final AFF 2016.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Rahmat Fajar, peliput final Piala AFF 2016 di Bangkok, Thailand

 

Indonesia akan menghadapi Thailand pada final Piala AFF tahun ini yang bertajuk Piala AFF 2021. Tim Garuda lolos ke final setelah menyingkirkan tuan rumah Singapura di semifinal dengan agregat 5-3. Sementara Thailand tembus ke partai puncak berkat kemenangan atas Vietnam dengan agregat 2-0. 

Baca Juga

Final edisi tahun ini mengingatkan saya kepada final Piala AFF 2016 yang mana Indonesia menghadapi Thailand. Saat itu, saya ditugaskan kantor terbang ke Bangkok untuk meliput langsung leg kedua final Piala AFF 2016 yang berlangsung di Stadion Rajamangala. Ketika itu, perasaan saya penuh dengan optimisme bahwa Indonesia akan membawa pulang trofi paling bergengsi di sepakbola Asia Tenggara. Ada alasan mengapa saya terbang dengan perasaan optimis.

Pertama, Indonesia memenangkan pertandingan leg pertama dengan skor 2-1 yang berlangsung di Stadion Pakansari, Bogor. Dua gol kemenangan Indonesia waktu itu dicetak oleh Rizky Pora dan Hansamu Yama Pranata setelah sempat tertinggal 0-1 lewat gol Teerasil Dangda.

Kedua, permainan agresif yang diperagakan pasukan mendiang Alfred Riedl menjadi alasan lain saya terbang ke Bangkok dengan perasaan percaya diri. Dua modal tersebut saya anggap cukup untuk membuat Pasukan Garuda keluar sebagai juara. 

Namun, ternyata dua fondasi itu masih kurang dari cukup. Optimisme saya langsung bubar ketika Siroch Chatthong mencetak gol pertama untuk Thailand pada menit ke-38. Kurnia Mega dan kawan-kawan langsung down ditambah dengan tekanan dari suporter tuan rumah.

Gol kedua Siroch pada menit ke-47 membuat saya, jurnalis dari Indonesia dan suporter asal Tanah Air lemas. Para pemain juga mulai kehilangan ketenangan di lapangan. Abduh Lestaluhu diganjar kartu merah karena sengaja menendang bola ke arah bangku cadangan Thailand. Indonesia pun harus kembali gagal mengangkat trofi Piala AFF untuk pertama kalinya sekaligus menegaskan tim spesialis runner-up setalh lima kali tampil di partai puncak.

Final tahun ini merupakan yang keenam kalinya bagi Indonesia di sepanjang keikutsertaannya di Piala AFF. Kebetulan lawan yang akan dihadapi adalah Thailand, tim yang membuyarkan mimpi Indonesia meraih trofi Piala AFF pertama kalinya 2016 silam.

Ini adalah waktu yang pas untuk membalas dendam kekalahan sekaligus mengukir sejarah baru. Indonesia punya modal lebih kuat daripada saat 2016 lalu. Pelatih timnas Indonesia Shin Tae-yong tampak sudah menemukan pola permainan tepat bagi timnya. Shin tak hanya mampu meracik serangan ciamik dan serangan kuat, pelatih asal Korea Selatan itu juga telah membawa peningkatan terhadap segala aspek mulai mental, teknik dan fisik.

Ia juga diuntungkan dengan mayoritas pemain muda yang mengisi skuadnya. Sehingga Indonesia cukup punya tenaga untuk melawan agresivitas permainan Thailand sepanjang pertandingan. Shin yang berpengalaman memimpin Korea Selatan di Piala Dunia 2018 pun tampak punya banyak strategi untuk mengalahkan lawan.

Berbeda ketika final Piala AFF 2016. Fisik pemain tak bisa bertahan hingga laga berakhir. Selain itu, Riedl waktu itu tak punya banyak waktu untuk mempersiapkan tim karena Indonesia baru saja selesai menjalani sanksi FIFA.

Kendati demikian, penampilan timnas Indonesia waktu itu tetap layak mendapatkan apresiasi. Itu karena, Indonesia awalnya dipandang sebelah mata karena berbagai masalah yang harus dihadapi Indonesia jelang turnamen. 

Ini saatnya Indonesia balas dendam dan juara!.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile