Monday, 10 Muharram 1444 / 08 August 2022

Monday, 10 Muharram 1444 / 08 August 2022

10 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

'Semakin Banyak Bukti Omicron Hanya Sebabkan Gejala Ringan'

Rabu 05 Jan 2022 11:31 WIB

Red: Andri Saubani

Mobil ambulans berjalan keluar usai mengantarkan pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pemerintah menerapkan situasi tanggap darurat untuk mencegah penyebaran COVID-19 varian Omicron salah satunya dengan menggencarkan Whole Genome Sequencing (WGS) untuk mendeteksi Omicron.

Mobil ambulans berjalan keluar usai mengantarkan pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pemerintah menerapkan situasi tanggap darurat untuk mencegah penyebaran COVID-19 varian Omicron salah satunya dengan menggencarkan Whole Genome Sequencing (WGS) untuk mendeteksi Omicron.

Foto: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Mayoritas pasien Omicron di Indonesia bergejala batuk dan pilek.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Haura Hafizhah, Kamran Dikrama, Dian Fath Risalah, Ali Yusuf, Zainur Mashir Ramadhan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, lebih banyak bukti yang muncul bahwa varian omicron menyebabkan gejala yang lebih ringan terhadap pasien Covid-19 daripada varian sebelumnya. Gejala yang paling umum adalah gangguan saluran pernapasan bagian atas.

Baca Juga

"Kami melihat semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa omicron menginfeksi bagian atas tubuh. Tidak seperti (varian) yang lain, paru-paru yang akan menyebabkan pneumonia parah," kata Manajer Insiden WHO Abdi Mahamud dikutip dari Reuters, pada Rabu (5/1).

Menurut Abdi, hal ini bisa menjadi kabar baik, tetapi ia benar-benar membutuhkan lebih banyak penelitian untuk membuktikannya. Sejak omicron terdeteksi pada November 2021, data WHO menunjukkan bahwa itu telah menyebar dengan cepat dan muncul di setidaknya 128 negara.

Kemunculan omicron telah memicu dilema bagi banyak negara dan orang yang ingin memulai kembali sektor ekonomi dan kehidupan mereka setelah hampir dua tahun diganggu oleh Covid-19. Namun, kini meski jumlah kasus baru Covid-19 di beberapa negara telah melonjak ke rekor terbaru, tingkat rawat inap dan angka kematian lebih rendah daripada fase lain sebelumnya selama pandemi.

"Apa yang kami lihat sekarang adanya keterpisahan antara kasus dan kematian," kata Abdi.

Pernyataan Abdi tentang pengurangan risiko penyakit parah akibat omicron berpadu dengan data lain, termasuk penelitian dari Afrika Selatan yang merupakan salah satu negara pertama di mana omicron terdeteksi. Namun, Abdi juga memberikan peringatan bahwa lonjakan kasus varian omicron berarti adalah ancaman bagi sistem medis di negara-negara di mana sebagian besar penduduknya belum divaksinasi.

"Tantangannya bukanlah vaksin, tetapi vaksinasi dan menjangkau populasi yang rentan itu," kata Abdi.

Mutasi baru

Terkait penularan cepat omicron, WHO juga mengingatkan bahwa seluruh dunia saat ini berisiko memunculkan virus SARS-Cov-2 varian baru yang lebih berbahaya.

“Semakin banyak omicron menyebar, semakin banyak transmisi dan replikasi, semakin besar kemungkinan untuk memunculkan varian baru,” kata petugas darurat senior WHO Cathrine Smallwood dalam sebuah pernyataan pada Selasa (4/1).

Smallwood menekankan, kendati kemungkinan berisiko lebih kecil dibandingkan varian delta, omicron tetap berpotensi menyebabkan kematian. Namun, tak ada yang dapat menebak tentang apa yang bisa dimunculkan varian terbaru Covid-19.

Smallwood mengungkapkan, sejak awal pandemi, Eropa sudah mencatatkan lebih dari 100 juta kasus Covid-19. Sebanyak lima juta kasus di antaranya tercatat pada pekan terakhir 2021.

“Kami berada dalam fase yang sangat berbahaya, kami melihat tingkat infeksi meningkat sangat signifikan di Eropa barat, dan dampak penuh dari hal itu belum jelas,” ujarnya.

Ia mengambil Inggris sebagai contoh. Menurut dia, negara tersebut sedang menghadapi peringatan krisis rumah sakit karena merebaknya penyebaran omicron. Menurut Smallwood, negara-negara Eropa lainnya dapat menghadapi situasi seperti Inggris.

“Bahkan dalam sistem kesehatan yang canggih dan berkapasitas baik, ada perjuangan nyata yang terjadi saat ini, serta kemungkinan ini akan terjadi di seluruh wilayah saat omicron mendorong kasus ke atas,” ujar Smallwood.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile