Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Kedekatan Batin 2 Tokoh Muhammadiyah Buya Hamka dan Buya Oedin

Rabu 05 Jan 2022 14:36 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Buya Hamka dan Buya Oedin adalah sahabat seperjuangan Muhammadiyah. Foto: Sampul Setangkai Pena di Taman Pujangga.

Buya Hamka dan Buya Oedin adalah sahabat seperjuangan Muhammadiyah. Foto: Sampul Setangkai Pena di Taman Pujangga.

Foto: Dok Republika.co.id
Buya Hamka dan Buya Oedin adalah sahabat seperjuangan Muhammadiyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka adalah salah seorang ulama besar di Indonesia. Buya Hamka juga merupakan sahabat Buya Oedin ketika masa muda.

Sebagai sahabatnya, Buya Hamka pernah mengakui secara jantan bahwa Buya Oedin lebih unggul dibandingkan dirinya. Pernyataan jujur ini dikemukakan Buya Hamka dalam sepucuk surat yang dikirimkan kepada salah satu putra Buya Oedin, yaitu Asdie Oedin. Dalam petikan surat itu, Buya Hamka menyatakan,

Baca Juga

“…dan kalau ditimbang-timbang lagi di antara kami, Buya Oedin jauh lebih hebat dari Buya Hamka. Ini bukan ambia muko (ambil muka), tetapi penilaian secara jujur, sebab Buya Hamka buliah juo lai. Buya Hamka anak seorang doktor dan ipar seorang konsul (Buya AR St. Mansur), jadi masih ada dasar, padahal Buya Oedin modalnya hanyalah dirinya sendiri, akhirnya dapat dicapainya pangkat Bupati klas I dan bersahabat dengan orang besar-besar, didengar orang bicaranya, diminta orang pertimbangannya, dan suatu hal yang kusut, betapapun kusutnya, kalau Buya Buya Oedin campur tangan, sebentar saja beres.”

Dalam surat itu, Buya Hamka juga menegaskan bahwa meskipun hubungan surat menyurat di antara keduanya amat jarang, namun hubungan batin Buya Hamka dan Buya Oedin tidak pernah putus. Buya Hamka mengaku sudah berdunsanak dengan Buya Oedin sejak 1929.

Buya Hamka dan Buya Oedin memang merupakan pejuang Muhammadiyah sejak sebelum era kemerdekaan. Sebagai pimpinan Muhammadiyah di Minangkabau, Buya Hamka dan Buya Oedin setidaknya dua sampai tiga kali turun ke setiap ranting, seperti di Andaleh, Batuhampar, Kubang, Simalanggang, dan lain-lain. Padahal, transportasi pada saat itu masih sangat sulit.

Pada 1947, kedua tokoh Muhammadiyah ini juga pernah berkunjung ke Kubang, Payakumbuh. Saat itu, Buya Hamka berpidato di hadapan kader Aisyiyah dan Muhammadiyah. Ratusan simpatisan organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini telah berkumpul di tempat yang telah ditentukan.

Maksud kedatangan Hamka dan Buya Oedin adalah menjernihkan konflik di tubuh Masyumi. Karena, saat itu terdapat friksi di tubuh partai bulan bintang tersebut, yakni antara Masyumi yang anggota dari Muhammadiyah (Masyumi-Mhd) dan Masyumi dari anggota Majelis Islam Tinggi (Masyumi-MIT).

Gesekan antara Masyumi-Mhd dan Masyumi-MIT rupanya telah membias pada dua barisan laskar di bawah naungan Masyumi, yakni Tentara Hizbullah yang didukung Muhammadiyah dan Barisan Sabilillah yang didukung organisasi pimpinan Syekh Moh Jamil Djambek itu.

Mengetahui ada konflik seperti itu, Buya Oedin yang tampil berpidato sebelum Hamka dengan suara lantang menegaskan bahwa dialah yang membawa Masyumi dari Jawa ke Minangkabau. Moh Natsir berpesan kepada pendiri Muhammadiyah Kurai Taji itu, untuk menjaga kekompakan di antara umat Islam.

“Masyumi tempat kita berpolitik dan berjuang. Sedangkan Muhammadiyah tempat kita beramal,” kata Buya Oedin.

Buya Oedin menegaskan bahwa tak ada yang namanya Masyumi-Mhd dan tak ada Masyumi-MIT. Seharusnya, menurut dia, semua anggota Masyumi bisa bersatu untuk melawan penjajah Belanda yang ingin kembali menguasasi Indonesia.

“Masyumi adalah satu, musuh bersama adalah Belanda, NICA, dan tentara sekutu Inggris. Hizbullah dan Sabilillah pergi mencari syahid ke medan perang Padang Area.”

Akhirnya, Buya Hamka dan Buya Oedin mampu menyatukan dua kubu di tubuh Masyumi tersebut. Keduanya telah banyak berkontribusi untuk agama dan bangsa ini.

Setelah Buya Hamka wafat pada 24 Juli 1981, empat tahun kemudian Buya Oedin juga turut dipanggil Allah SWT. Buya Oedin wafat di Jakarta pada 17 Juni 1984 dan dimakamkan di Perkuburan Tanah Kusir Jakarta. 

sumber : Harian Republika
Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile