Saturday, 27 Syawwal 1443 / 28 May 2022

Saturday, 27 Syawwal 1443 / 28 May 2022

Tenang, Tarif Listrik tak akan Naik Sampai Maret

Kamis 13 Jan 2022 10:17 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Friska Yolandha

Petugas PLN memeriksa meteran listrik di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Senin (20/12/2021). Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana memastikan hingga Maret 2022 pemerintah tidak akan menaikkan harga listrik.

Petugas PLN memeriksa meteran listrik di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Senin (20/12/2021). Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana memastikan hingga Maret 2022 pemerintah tidak akan menaikkan harga listrik.

Foto: ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas
Pemerintah menunda evaluasi tarif listrik mengingat kesiapan masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana memastikan hingga Maret 2022 pemerintah tidak akan menaikkan harga listrik. Menurut Rida, kebijakan ini dilakukan mengingat masyarakat masih dalam pemulihan ekonomi.

"Masih pandemi juga, masyarakat belum siap, makanya TDL tetap dulu. Untuk triwulan 1 sampai Maret nanti tetap tidak ada perubahan," ujar Rida saat ditemui di Kementerian ESDM, Kamis (13/1/2022).

Baca Juga

Rida mengatakan, memang saat ini pemerintah berencana untuk mengevaluasi tarif dasar listrik (TDL). Sebab, harga energi primer sudah melambung dan menekan ongkos produksi pembangkit.

Rida juga memastikan saat ini pemerintah berupaya untuk menciptakan pasokan listrik yang andal untuk masyarakat. Di tengah krisis pasokan energi primer, kata Rida, pemerintah melakukan pengetatan pasokan energi primer.

Rida menilai kebijakan larangan ekspor memang perlu diambil pemerintah. Sebab, faktanya secara produksi dan cadangan yang dimiliki Indonesia sangat banyak. Hanya, karena persoalan harga batu bara yang sedang naik menarik minat pengusaha batu bara untuk memprioritaskan ekspor.

“Akan lucu saja kalau kita mati listrik karena tidak punya batu bara, padahal ada tapi diekspor. (HOP) amannya 10 hari, tapi Pak Menteri minta 20 hari. Untuk seterusnya 20 hari,” katanya.

Pada saat krisis, kata Rida, hari operasi (HOP) sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menyatakan kekurangan pasokan batu bara sempat menyentuh lima hari. Namun, saat ini HOP PLTU telah mencapai 10 hari.

“Sampai saat ini trennya membaik. Pemadaman tidak? Tidak, sudah lewat. Dari 17 PLTU itu tidak ada yang mati hari ini. Sistem Jamali maupun luar itu jangan sampai mati karena kekurangan batu bara,” ujar Rida.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile