Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Gempa M 6,6 dan Catatan Sejarah Delapan Guncangan Merusak di Selat Sunda

Jumat 14 Jan 2022 14:51 WIB

Red: Andri Saubani

Rumah dan fasilitas sekolah di beberapa wilayah di Pandeglang yang rusak akibat gempa bermagnitudo 6,7 yang mengguncang Sumur, Banten, Jumat (14/1).

Rumah dan fasilitas sekolah di beberapa wilayah di Pandeglang yang rusak akibat gempa bermagnitudo 6,7 yang mengguncang Sumur, Banten, Jumat (14/1).

Foto: dok. Istimewa
Gempa pada Jumat sore berlokasi di laut pada jarak 132 km arah Barat Daya Pandeglang.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Eva Rianti, Intan Pratiwi, Dian Fath Risalah, Antara

Gempa berkekuatan Magnitudo 6,7 (kemudian direvisi jadi 6,6) mengguncang wilayah Banten, Kamis (14/1/2022) sekira pukul 16.05 WIB. Guncangan gempa tidak hanya terasa di Banten tetapi juga hingga provinsi sekitar seperti DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, hingga Lampung.

Baca Juga

BMKG melaporkan gempa berada di koordinat 7.01 LS-105.26 BT (52 km Barat Daya Sumur, Banten). BMKG juga mengonfirmasi lewat akun Twitter-nya, bahwa gempa itu tidak berpotensi tsunami. 

Sejumlah warga di wilayah Tangerang Selatan (Tangsel), Banten mengaku kaget dan berlarian ke tempat yang aman. Pantauan Republika, di kawasan Serpong, Tangsel, secara tiba-tiba terasa sebuah goncangan. Sejumlah warga sontak berteriak terjadinya gempa pada Kamis sore itu. 

"Kaget sih. Waktu ada goncangan, saya kira lagi sakit kepala, eh ternyata pada teriak ada gempa, langsung keluar ke lapangan," ujar Nisa (25), seorang warga di kawasan Serpong, Tangsel. 

Warga lainnya, Khairul (24) yang pada saat gempa tengah berada di Mapolres Tangsel mengaku merasakan gempa. "Ya lumayan terasa gempanya. Sekitar satu menitan ya. Yang pada di gedung langsung berlarian keluar," kata dia. 

Gempa tersebut terpantau tidak menyebabkan adanya dampak yang kentara di kawasan Tangsel. Kondisi gedung dan sejumlah fasilitas publik terlihat masih normal. 

Di Kabupaten Lebak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) setempat melaporkan, 36 rumah warga dan sekolah di daerah itu rusak akibat gempa.

"Dari 36 rumah itu di antaranya 11 unit rumah rusak berat, 21 unit rumah ringan, dan tiga unit sekolah rusak sedang," kata Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Lebak Agus Riza Faizal di Lebak, Jumat.

BPBD Lebak hingga saat ini masih melakukan pendataan korban gempakarena tidak tertutup kemungkinan banyak kerusakan tempat tinggal masyarakat. Ia mengatakan, petugas dan relawan terus melakukan pemantauan di lapangan termasuk menerima laporan dari desa dan kecamatan terkait dengan dampak gempa tersebut.

Rumah dan sekolah yang rusak itu tersebar di 15 kecamatan. Hingga saat ini, pihaknya belum menerima laporan adanya korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

"Kami terus bekerja hingga pagi untuk menerima laporan kerusakan rumah akibat gempa tektonik itu," katanya.

Gempa yang berguncang cukup kuat itu juga berdampak pada kelistrikan di Banten. Berdasarkan pengecekan PT PLN (Persero), sebanyak 296 gardu induk di dua wilayah terdampak. Hingga pukul 18.00, PLN berhasil memulihkan listrik 11.196 pelanggan dari 21.490 pelanggan yang terdampak.

Saat ini tercatat jumlah pelanggan di seluruh wilayah Banten sebesar 3,6 juta. PLN memastikan sistem kelistrikan di wilayah lain masih terpantau aman.

Manager PLN UP3 Banten Selatan, Irwanto menjelaskan imbas gempa yang belangsung selama 30 detik tersebut berimbas pada tiga penyulang kelistrikan. Dua wilayah kerja yang dekat dengan pusat gempa yaitu Unit Layanan Pelanggan (ULP) Labuan dan ULP Malingping.

"PLN gerak cepat untuk bisa memulihkan sistem kelistrikan khususnya di dua wilayah tersebut. PLN menurunkan tim recovery untuk memastikan besar dampak dan melakukan pemulihan," ujar Irwanto, Jumat.

 

 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile