Tuesday, 16 Syawwal 1443 / 17 May 2022

Tuesday, 16 Syawwal 1443 / 17 May 2022

Satu Lagi Ditemukan Gejala Omicron, Berkeringat di Malam Hari

Sabtu 15 Jan 2022 17:25 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Nora Azizah

Omicron berkembang pesat dan membuat adanya gejala-gejala baru (Foto: ilustrasi)

Omicron berkembang pesat dan membuat adanya gejala-gejala baru (Foto: ilustrasi)

Foto: alodokter
Omicron berkembang pesat dan membuat adanya gejala-gejala baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Varian Covid-19 Omicron telah berkembang pesat sehingga membuat adanya gejala baru. Dokter mengatakan beberapa orang melaporkan gejala keringat malam dan gejala lain yang terkait dengan gangguan tidur.

Menurut Mayo Clinic, keringat malam merupakan peristiwa berulang dari keringat ekstrem yang dapat membanjiri pakaian tidur atau tempat tidur dan terkait dengan kondisi medis atau penyakit yang mendasarinya. Pada acara Today, Dr John Torres mengatakan keringat malam adalah gejala yang sangat aneh. Menurut dia, orang yang mengalami gejala keringat malam tidak melaporkan kehilangan rasa atau penciuman seperti pasien Omicron lain.

Baca Juga

Sementara itu, Dr Amir Khan meminta Layanan Kesehatan Nasional Inggris untuk memperbarui daftar gejala varian Omicron termasuk keringat malam. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), gejala khas Covid-19 termasuk demam atau kedinginan, batuk, sesak napas atau kesulitan bernapas, kelelahan, nyeri otot atau tubuh, sakit kepala, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau pilek, diare, mual atau muntah dan kehilangan rasa atau bau baru.

Dilansir Fox News, Sabtu (15/1/2022), masyarakat dapat melindungi diri mereka sendiri dari varian Omicron dengan mendapat vaksin Covid-19, mengenakan masker, menjaga jarak sosial, dan mencuci tangan dengan sabun dan air. Meskipun masih banyak yang tidak diketahui tentang variannya, data CDC menunjukkan Omicron menyumbang sekitar 98 persen dari kasus Covid-19 baru.

Menurut Pusat Sumber Daya Coronavirus Johns Hopkins, AS telah melihat 776.455 kasus baru pada hari terakhir dan 1.875 kematian. Selain itu, AS telah melaporkan lebih dari 64 juta kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 846.400 kematian sejak awal pandemi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile