Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Ikatan Apoteker Indonesia: Molnupiravir Obat Keras, Tidak Dijual Bebas

Selasa 18 Jan 2022 12:32 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Agus raharjo

Pil eksperimental Molnupiravir produksi Merck.

Pil eksperimental Molnupiravir produksi Merck.

Foto: EPA
Pemerintah belum memastikan apakah molnupiravir akan dijual bebas di apotek.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pemerintah terus menyiapkan obat-obatan untuk pasien Covid-19, di tengah amukan varian omicron. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, sebanyak 400 ribu tablet molnupiravir sudah tersedia di Indonesia. Obat ini juga akan segera diproduksi di dalam negeri.

Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Farmasi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Keri Lestari menegaskan meskipun akan tersedia di apotek, pembelian molnupiravir tetap dengan resep dokter. Molnupiravir, kata Keri tidak dijual bebas.

Baca Juga

"Molnupiravir obat keras sehingga pembeliannya harus dengan resep dokter. Tidak dijual bebas," tegas Keri kepada Republika.co.id, Selasa (18/1/2022).

Dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, meskipun akan tersedia dalam layanan telemedicine, Kemenkes masih melakukan pembahasan lebih lanjut apakah bisa dijual bebas di apotek.

"Yang pasti kita akan berikan melalui layanan telemedicine, untuk penjualan bebas masih akan dibahas lebih lanjut," tutur Nadia.

Ia mengimbau masyarakat harus bersiap menghadapi gelombang Covid-19 varian omicron. Karakteristik varian omicron memiliki tingkat penyebaran yang sangat cepat.

“Jika dilihat dari perkembangannya, konfirmasi omicron cenderung mengalami peningkatan, dari pemeriksaan SGTF, kasus probable omicron pada PPLN cenderung meningkat, hasil WGS juga menunjukkan proporsi varian omicron yang mulai mendominasi,” tegas Nadia

Namun, dilihat dari tingkat keparahan, mayoritas kasus omicron tidak menunjukkan gejala atau memiliki gejala ringan. Sehingga tidak membutuhkan perawatan yang serius di rumah sakit. Untuk itu, lanjut dr Nadia, pihaknya akan menggencarkan telemedicine yang didedikasikan bagi pasien yang melakukan isolasi di rumah.

“Kami bekerja sama dengan 17 platform telemedicine untuk memberikan jasa konsultasi dokter dan jasa pengiriman obat secara gratis bagi pasien Covid-19 yang sedang menjalani isolasi di rumah, agar penanganan pasien dapat dilakukan seluas dan seefektif mungkin,” ujarnya.

Selain itu dari sisi teurapetik, Kemenkes juga akan menyertakan penggunaan obat Monulpiravir dan Plaxlovid untuk terapi pasien Covid-19 dengan gejala ringan. Sejalan dengan itu, pemerintah terus menyiapkan obat anti virus baru antara lain molnupiravir dan paxlovid. Saat ini Kemenkes sudah mengamankan 400 ribu tablet molnupiravir yang sudah disiapkan oleh PT Amarox.

PT Amarox juga akan memproduksi sendiri molnupiravir yang rencananya akan dimulai April atau Mei 2022. Menkes Budi meminta PT Amarox juga bisa memproduksi paxlovid untuk menghadapi pandemi berikutnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile