Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Make in India, Sisi Lain Upaya Diskriminasi Muslim Secara Ekonomi   

Selasa 18 Jan 2022 23:27 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani, Puti Almas  / Red: Nashih Nashrullah

Ekonomi India (ilustrasi). Muslim di India padahal turut membangun perekonomian negara tersebut

Ekonomi India (ilustrasi). Muslim di India padahal turut membangun perekonomian negara tersebut

Foto: AP/Manish Swarup
Muslim di India padahal turut membangun perekonomian negara tersebut

REPUBLIKA.CO.ID,  "Make in India" pada dasarnya merupakan kampanye yang bertujuan untuk menjadikan India sebagai pabrik dunia. Namun di samping tujuan ekonominya, branding "Make in India" untuk audiens domestik kerap diliputi ornamen nasionalis Hindu. 

India telah membuka pasar untuk merek-merek asing pada 1991. Sejak saat itu pula, India kerap menggunakan slogan seperti "Make in India" dan "India Mandiri" untuk mengkomodifikasi bangsa. 

Baca Juga

Identitas nasional menjadi fondasi yang efektif dan bertahan lama dalam pembentukan suatu brand atau merek. Aliran investasi yang masuk ke India dianggap sebagai tanda kekuasaan dan prestise negara. 

"Namun pada gilirannya, (aliran investasi) tersebut digunakan oleh Modi (Perdana Menteri India) dan BJP (Parta Bharatiya Janata) untuk mendongkrak proyek budaya-politik Hindutva mereka," ungkap analis Christian Kurzydlowski, seperti dilansir EuroAsia Review

Hindutva atau Kehinduan pada dasarnya merupakan istilah untuk sebuah ideologi politik yang dibuat Vinayak Damodar. Hindutva dikenal sebagai bentuk nasionalisme Hindu yang dominan di India dan direpresentasikan oleh Partai Bharatiya Janata atau Bharatiya Janata Party (BJP). Hindutva kerap mengacu pada masa kejayaan Hindu yang ahistoris, yang telah dihancurkan oleh Mughal dan Inggris. 

"Branding tenaga kerja yang produktif, tanah dengan sumber daya yang belum dimanfaatkan, serta patriotisme, semua keunggulan "Make in India", mempromosikan utopia Hindu yang artifisial dan indah," jelas Kurzydlowski. 

Di satu sisi, Kurzydlowski mengatakan Perdana Menteri India Narendra Modi memiliki cita-cita untuk menjadikan India sebagai pusat manufaktur global yang inklusif. 

Namun ironisnya, di dalam negeri, pemerintahan Modi justru membangun pengucilan terhadap warga Muslim, yang mencakup 14 persen dari populasi India. 

Dengan menggunakan konstruksi identitas agama era kolonial, Kurzydlowski mengatakan sejarah versi BJP memprioritaskan komunitas Hindu di India. 

Baca juga: Mualaf Syavina, Ajakan Murtad Saat Berislam dan Ekonomi Jatuh 

 

"Langkah ini penuh dengan konsekuensi mengerikan bagi India, baik secara ekonomi, politik, dan sosial," jelas Kurzydlowski. 

Sebagai senjata instrumentalisasi, fokus kampanye "Make in India" pada ekonomi nasional juga mendelegitimasi Muslim India dengan cara tidak mengakui kontribusi dan kehadiran Muslim India pada ekonomi negara. 

 

 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile