Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

29 Zulqaidah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Studi Ungkap Bahaya Covid-19 pada Kehamilan

Rabu 19 Jan 2022 20:34 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti

Bahaya Covid-19 pada kehamilan. (ilustrasi).

Bahaya Covid-19 pada kehamilan. (ilustrasi).

Foto: Republika/Mardiah
Prempuan hamil termasuk ke dalam kelompok yang berisiko bila terkena Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perempuan hamil termasuk ke dalam kelompok yang berisiko bila terkena Covid-19. Dua studi terbaru berhasil mengungkapkan bagaimana Covid-19 dapat membahayakan kesehatan ibu dan janin.

Salah satu studi yang dilakukan di Skotlandia menemukan dampak kesehatan yang mungkin terjadi bila ibu hamil yang tak vaksinasi terkena Covid-19. Pada bayi, dampak yang mungkin terjadi adalah peningkatan risiko stillbirth atau bayi lahir mati. Pada ibu hamil, risiko perawatan di rumah sakit dan kematian juga lebih tinggi jika tak vaksinasi.

Baca Juga

Studi ini dilakukan oleh peneliti dari University of Edinburgh dan Public Health Scotland. Ada sekitar 88 ribu data ibu hamil pada periode Desember 2020 hingga Oktober 2021 yang digunakan dalam studi ini.

Studi yang dimuat dalam jurnal Nature Medicine ini menunjukkan bahwa ada total 77,4 persen kasus infeksi, 90,9 persen kasus perawatan di rumah sakti terkait Covid-19. Selain itu, ada 98 persen kasus yang membutuhkan perawatan kritis pada ibu hamil yang tak divaksinasi.

Studi juga menemukan ada 2,364 bayi yang dilahirkan oleh perempuan yang terinfeksi Covid-19. Sebanyak 2.353 bayi lahir dalam kondisi hidup, 11 bayi lahir dalam kondisi stillbirth, dan delapan bayi lahir dalam kondisi hidup namun kemudian mati dalam waktu 28 hari pertama.

Di antara bayi yang lahir hidup, sebanyak 241 di antaranya lahir secara prematur. Masalah-masalah ini memiliki kecenderungan lebih besar untuk terjadi bila infeksi Covid-19 berlangsung dalam kurun waktu 28 hari sebelum waktu kelahiran.

"Keengganan vaksinasi dalam kehamilan perlu ditangani," jelas peneliti, seperti dilansir WebMD, beberapa waktu lalu.

Studi kedua dilakukan oleh peneliti dari Institute for Systems Biology dan telah dipublikasikan pada Lancet. Studi yang dilakukan di Amerika Serikat ini juga menunjukkan hasil yang serupa.

Menurut studi ini, ibu hamil lebih berisiko untuk mengalami kelahiran bayi prematur, berat bayi lahir rendah, dan stillbirht. Risiko ini tetap ada meski kasus Covid-19 yang dialami ibu hamil ringan.

Studi ini melibatkan sekitar 18 ribu ibu hamil. Ada sebanyak 882 ibu hamil yang terbukti positif Covid-19. Sebanyak 85 orang terinfeksi Covid-19 pada trimester pertama kehamilan, 226 orang terinfeksi pada trimester kedua, dan 571 terinfeksi pada trimester ketiga. Tak ada satu pun dari ibu hamil tersebut yang sudah mendapatkan vaksin Covid-19.

Menurut studi, sebagian besar masalah kehamilan dan kelahiran terjadi pada kasus Covid-19 yang mengenai ibu hamil di trimester pertama dan kedua kehamilan. Masalah-masalah tersebut tetap bisa muncul meski ibu hamil tak mengalami komplikasi masalah pernapasan terkait Covid-19.

"Para ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi terhadap hasil akhir yang buruk setelah infeksi SARS-CoV-2, meski pada kasus Covid-19 yang tidak begitu berat," jelas peneliti Jennifer Hadlock MD.

Berdasarkan temuan ini, Hadlock menilai ibu hamil yang terkena Covid-19 perlu dipantau lebih baik setelah pulih dari infeksi. Pemantauan yang lebih ketat dapat membantu menjaga kesehatan ibu dan janin dengan baik. 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile