Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

8 Zulhijjah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Risiko Kematian Akibat Omicron 10 Kali Lebih Tinggi Bila Belum Vaksin

Sabtu 22 Jan 2022 14:33 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Indira Rezkisari

Ilustrasi Covid-19 varian Omicron

Ilustrasi Covid-19 varian Omicron

Foto: Pixabay
Omicron merupakan varian yang sangat mudah menular.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Omicron kerap disebut sebagai varian yang lebih ringan dibandingkan Delta, sehingga sering kali disepelekan. Padahal, varian Omicron tetap bisa memicu gejala berat dan bahkan kematian, khususnya pada individu yang berisiko dan belum vaksinasi.

Risiko kematian akibat infeksi varian Omicron diperkirakan 90 persen lebih rendah dibandingkan risik kematian akibat varian Delta. Seperti dilansir CNN, Sabtu (22/1/2022), kasus kematian akibat infeksi varian Omicron diprediksi berkisar di angka 0,1 persen atau 1 dari 1.000 kasus infeksi.

Baca Juga

Akan tetapi, risiko kematian terkait varian Omicron ini akan menjadi 10 kali lipat lebih besar pada orang yang belum vaksinasi. Pada orang yang belum divaksinasi, risiko kematian akibat varian Omicron juga lebih besar dibandingkan dengan kematian akibat flu.

Sekilas, angkat tersebut mungkin terlihat tidak begitu besar. Akan tetapi, Omicron merupakan varian yang sangat mudah menular.

Sebagai perbandingan, flu menginfeksi sekitar 60 juta orang di Amerika Serikat dalam kurun waktu 3-4 bulan. Akan tetapi, varian Omicron bisa menginfeksi minimal dua kali lipat dari angka tersebuthanya dalam aktu 3-4 pekan.

Penambahan kasus yang cepat akibat varian Omicron akan memicu peningkatan kasus Covid-19 yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan juga kematian secara signifikan. Kondisi ini bisa membuat sistem kesehatan menjadi kembali tertekan bila tak ditanggulangi.

Pada orang-orang yang divaksinasi, infeksi varian Omicron mungkin hanya akan memicu gejala yang ringan, setara dengan flu berat, atau bahkan tidak bergejala. Pada kelompok ini, kondisi mereka umumnya akan pulih dalam waktu beberapa hari.

Akan tetapi, ada kelompok-kelompok yang berisiko membutuhkan perawatan di rumah sakit dan kematian bila tertular varian Omicron. Selain individu yang belum divaksinasi, beberapa kelompok yang juga berisiko adalah lansia, individu dengan kelainan imun, dan individu yang menderita komorbid atau penyakit penyerta.

Oleh karena itu, meski dijuluki sebagai varian yang ringan, Omicron sebaiknya tak disepelekan. Masyarakat tetap harus mematuhi protokol kesehatan saat beraktivitas, seperti menggunakan masker, menjaga jarak fisik, membersihkan tangan secara berkala, dan menjauhi kerumunan.

Di tengah gelombang varian Omicron, jenis masker yang digunakan juga perlu diperhatikan. Bila memungkinkan, gunakan masker N95, KN95, atau yang setara. Penggunaan masker bedah juga masih dapat menjadi pilihan. Akan tetapi, penggunaan masker kain tak lagi direkomendasikan.

Semua orang tentu merasa lelah menghadapi pandemi yang rasanya tak kunjung usai. Namun perlu diingat bahwa virus corona terus bermutasi. Semakin cepat masyarakat bisa beradaptasi denagn kondisi saat ini, semakin kecil kemungkinan Covid-19 akan mendominasi kehidupan. Untuk mencapai hal ini, dibutuhkan kerjasama dari semua orang untuk menekan penyebaran Covid-19 melalui beragam upaya yang telah dianjurkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile