Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

1 Zulhijjah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Menkominfo: 85 Juta Pekerjaan Akan Hilang Karena Adopsi Teknologi

Ahad 23 Jan 2022 02:54 WIB

Rep: fauziah mursid/ Red: Hiru Muhammad

 Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate mendorong setiap orang untuk terus meningkatkan kualitas dan keterampilan digital. Upaya itu penting seiring proyeksi jumlah dan jenis pekerjaan baru akibat adopsi teknologi yabng menuntut peningkatan keterampilan bidang digital dan soft skills  Tampak pekerja berjalan saat jam pulang kerja di kawasan bisnis Sudirman-Thamrin, Jakarta, Senin (11/1). (ilustrasi)

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate mendorong setiap orang untuk terus meningkatkan kualitas dan keterampilan digital. Upaya itu penting seiring proyeksi jumlah dan jenis pekerjaan baru akibat adopsi teknologi yabng menuntut peningkatan keterampilan bidang digital dan soft skills Tampak pekerja berjalan saat jam pulang kerja di kawasan bisnis Sudirman-Thamrin, Jakarta, Senin (11/1). (ilustrasi)

Foto: Republika/Thoudy Badai
Pada tahun 2025 akan terdapat 43 persen pelaku industri yang mereduksi pekerjanya

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate mendorong setiap orang untuk terus meningkatkan kualitas dan keterampilan digital. Upaya itu penting seiring proyeksi jumlah dan jenis pekerjaan baru akibat adopsi teknologi yang menuntut peningkatan keterampilan bidang digital dan soft skills.

“Diproyeksikan akan terdapat 85 juta pekerjaan lama yang mungkin hilang dan 97 juta pekerjaan baru yang mungkin muncul, ini akibat pembagian kerja antara manusia, mesin, dan algoritma,” kata Johnny dikutip dari siaran pers Kementerian Kominfo, Ahad (23/1).

Baca Juga

Berdasarkan laporan dari The Future of Jobs dari World Economic Forum, pada tahun 2025 akan terdapat 43 persen pelaku industri yang melakukan reduksi atau pengurangan jumlah tenaga kerja sebagai konsekuensi dari penerapan integrasi teknologi.

Johnny mengatakan, peningkatan keterampilan digital dan soft skills harus selaras dengan perkembangan teknologi agar tenaga kerja khususnya generasi muda Indonesia dapat dilakukan melalui upskilling dan reskilling. 

"Adapun jenis pekerjaan baru yang muncul dan semakin meningkat permintaan diantaranya data analyst dan scientist, big data specialist, artificial intelligence and machine learning specialist, digital marketing and strategy specialist,” kata Johnny.

Menurutnya, ada pula beberapa jenis pekerjaan lain yang akan berkembang seperti renewable energy engineers, process automation specialist, internet of things specialist, digital transformation specialist, business services and administration managers; dan business development professionals.

Ia menegaskan Pemerintah akan terus mendorong sektor privat atau perusahaan swasta di Indonesia dari berbagai bidang untuk pemenuhan kebutuhan SDM yang sesuai dengan kebutuhan di masa depan.

Menurutnya, Pemerintahan dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo periode 2019-2024 memiliki lima poin penting, salah satunya pembangunan sumberdaya manusia.

“Disamping pembangunan sumberdaya manusia, Pemerintah juga mempercepat dan melanjutkan pembangunan infrastruktur, mengundang investasi seluas-luasnya untuk membuka lapangan pekerjaan, reformasi birokrasi, dan APBN yang fokus terlepas dari Covid-19 saat ini,” katanya.

Johnny menyatakan di tengah tuntutan terhadap peningkatan kualitas SDM dan manajemen talenta, fokus pembangunan SDM juga diarahkan untuk meningkatkan daya saing bangsa.

Selain itu, Pemerintah juga telah melaksanakan pembangunan infrastruktur secara masif, terutama pada periode pertama kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Menurutnya, memasuki era transformasi digital saat ini, pembangunan infrastruktur digital telah dan sedang dipercepat oleh Pemerintah dan mitra kerja perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM.

“Pembangunan infrastruktur termasuk infrastruktur digital hanya akan optimal jika didukung dengan kapasitas sumberdaya manusia Indonesia yang juga unggul dan berdaya saing. Karena kemajuan dan disrupsi digital yang terjadi secara pesat menuntut kita sekalian untuk terus adaptif dan kemampuan agility, mengubah arah dengan cepat,” katanya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile