Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

11 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Ustadz Sofyan Tsauri: Orang Berlatar Eksakta Lebih Rawan Disusupi Doktrin Radikalisme

Rabu 26 Jan 2022 07:18 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah

Radikalisme (ilustrasi). Ustadz Sofyan Tsauri: Orang Berlatar Eksakta Lebih Rawan Disusupi Doktrin Radikalisme

Radikalisme (ilustrasi). Ustadz Sofyan Tsauri: Orang Berlatar Eksakta Lebih Rawan Disusupi Doktrin Radikalisme

Foto: punkway.net
Orang sosial cenderung memiliki daya imunitas atau sudut pandang lain.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan narapidana teroris (napiter) Ustadz Sofyan Tsauri menyebut dalam jurnal-jurnal psikologi disebutkan ada perbedaan mendasar antara orang sosial dan orang saintis atau eksakta. Orang sosial cenderung memiliki daya imunitas atau sudut pandang lain ketika melihat suatu persoalan sehingga kebal dengan doktrin serupa.

"Sementara orang-orang saintis, cenderung terpaku hanya pada apa yang dihadapannya atau membangun citra. Maka, jangan heran di fakultas-fakultas eksakta cenderung lebih rawan radikalisme berkembang," katanya dalam kegiatan Halaqah Kebangsaan I yang digelar Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) MUI, Rabu (26/1/2022).

Baca Juga

Hal-hal yang ia sampaikan di atas disebut merupakan hasil penelitian pelaku 9/11 oleh psikolog di Amerika. Karena itu, ia mengatakan kebanyakan pemimpin jihad di dunia memiliki latar belakang dari dunia eksakta.

Mereka yang menjadi teroris adalah orang yang hijrah, namun tidak memiliki guru atau bimbingan yang baik. Mereka cenderung memahami ilmu secara sempit.

"Fenomena hijrah ini tanpa guru atau bimbingan yang baik. Syariat islam disamakan dengan matematika atau hitam dan putih. Makanya, mereka banyak terjebak akibat pola saintis dalam diri mereka," ujar dia.

Ia menyebut sebanyak 3000-an teroris yang sudah ditangkap oleh Densus 88 dari 2000 sampai 2021 kebanyakan berasal dari kelompok yang jargonnya mengajak kepada Alquran dan assunnah. Permasalahannya, apakah orang-orang ini pantas meneriakkan hal tersebut, sementara belum pernah belajar dengan urut dan runut tentang agama.

Dahsyatnya doktrin yang dibawa kelompok ini disebut sangat berbahaya mengingat mereka mempelajari ilmu ini hanya dalam hitungan hari atau minggu. Di balik kekurangan itu, mereka sudah bisa mengatakan mendapatkan nilai yang dianggap sebagai kebenaran.

Lebih lanjut, ia mengatakan biang dari ekstremisme adalah literasi beragama. Mereka yang kelihatannya pejuang Islam dan sunnah ini tanpa sadar malah menghancurkan nilai-nilai itu. Substansi dan ruh Islam disebut hilang di tangan mereka. Syaikh Yusuf Qardhawi dalam buku Fiqih Maqashid menyebut, terkadang Islam terdzalimi oleh orang-orang shaleh daripada musuh islam itu sendiri. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile