Perajin Tahu Gunungkidul Tetap Berproduksi Kendati Harga Kedelai Mahal

Red: Yusuf Assidiq

Perajin melakukan proses pemotongan saat pembuatan tahu di sentra industri tahu.
Perajin melakukan proses pemotongan saat pembuatan tahu di sentra industri tahu. | Foto: ANTARA/Prasetia Fauzani

REPUBLIKA.CO.ID, WONOSARI -- Perajin tahu di Desa Kepek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tetap memproduksi tahu meski harga kedelai di tingkat pedagang mencapai Rp 11 ribu per kilogram.

Salah satu perajin tahu Desa Kepek, Santoso mengatakan, pada 11-13 Februari 2022 lalu, perajin tahu di Desa Kepek sempat berhenti produksi karena tingginya harga kedelai dan pasokan kedelai yang tersendat, namun saat ini sudah produksi lagi.

"Berhentinya produksi tahu ini untuk menyeragamkan harga kedelai dan pembelian satu pintu, supaya ada potongan harga kedelai, serta menyamakan harga tahu supaya dapat bertahan dengan tingginya harga kedelai ditambah tingginya harga minyak goreng," kata Santoso, Senin (21/2/2022).

Ia mengatakan harga tahu di tingkat perajin tahu di Desa Kepek Rp 38 ribu dari sebelumnya Rp 33 ribu percetakan. Kemudian, harga tahu setengah matang Rp38 ribu sampai Rp 45 ribu percetakan, dan untuk tahu pong dari Rp 43 ribu naik Rp 53 ribu percetakan.

"Harga mulai naik sejak 15 Februari 2022 lalu. Harga ini sesuai kesepakatan bersama," kata dia.

Sementara itu, Kepala Seksi Distribusi, Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan Gunungkidul, Sigit Haryanto mengatakan, aksi mogok produksi sempat terjadi. Bahkan saat itu yang terap berproduksi hanya sekitar satu-dua perajin tahu. Namun demikian, pihaknya tidak bisa berbuat banyak karena kebijakan impor kedelai bergantung bagaimana kebijakan dari pusat.

"Naiknya harga kedelai impor saat ini merupakan situasi tingkat global. Kami saat ini hanya bisa memantau dan melaporkan ke pusat sebagai bahan penentu kebijakannya," ujarnya.

Ia menyarankan agar pengusaha tahu-tempe melakukan pembelian kedelai impor secara kolektif, sehingga akan lebih murah dengan skema kolektif ketimbang beli sendiri.

Saat ini, kedelai impor berada di kisaran harga Rp 11 ribu lebih per kg. Menurutnya, jika dengan sistem kolektif maka harga kedelai akan jadi lebih murah di kisaran Rp 10.900 per kg.

"Awalnya, pembelian kedelai kami sarankan lewat koperasi. Namun karena pasokan diambil langsung dari importir yang ada di Semarang, Jawa Tengah, ada kendala terpaksa dihentikan," kata dia.

Ia juga memaklumi perajin tahu mengurangi ukuran tahu-tempe yang diproduksi. Hal itu dilakukan agar mereka tetap bisa mendapat keuntungan, meski tipis karena harga kedelai impor yang mahal.

"Kondisi ini sudah berdampak pada penjualan tahu-tempe di pasaran. Pengurangan persediaan hingga ukuran yang jadi lebih kecil. Kami memaklumi hal ini," katanya.

Terkait


Pasar di Bogor tak Jual Tahu dan Tempe Hari Ini

Perajin dan Pedagang Tahu di Tasikmalaya Sepakat Mogok

Kedelai Mahal, Perajin Tahu Tempe di Serang Hentikan Produksi

Perajin Tahu Takwa Khas Kediri Terpaksa Naikan Harga Jual

Perajin Tahu-Tempe di Bandung Ikut Mogok Produksi

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

[email protected]

Ikuti

× Image
Light Dark