Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

 

7 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Australia Desak China Berupaya Hentikan Invasi Rusia di Ukraina

Senin 07 Mar 2022 08:44 WIB

Red: Nur Aini

Perdana Menteri Australia Scott Morrison pada Senin (7/3/2022) mengatakan China harus bertindak sejalan dengan pernyataannya tentang perdamaian dunia dan bergabung dengan upaya global untuk menghentikan invasi Rusia di Ukraina.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison pada Senin (7/3/2022) mengatakan China harus bertindak sejalan dengan pernyataannya tentang perdamaian dunia dan bergabung dengan upaya global untuk menghentikan invasi Rusia di Ukraina.

Foto: Bianca De Marchi/AAP Image via AP
Australia menyebut serangan Rusia merupakan pelanggaran berat hukum internasional

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Perdana Menteri Australia Scott Morrison pada Senin (7/3/2022) mengatakan China harus bertindak sejalan dengan pernyataannya tentang perdamaian dunia dan bergabung dengan upaya global untuk menghentikan invasi Rusia di Ukraina.

 

"China sejak lama telah menyatakan (mereka) memiliki peran sebagai salah satu kekuatan besar dunia dan menjadi penyumbang perdamaian dan stabilitas global. Tak ada negara yang punya pengaruh lebih besar dalam mengakhiri perang mengerikan di Ukraina ini daripada China," kata Morrison saat menanggapi pertanyaan setelah pidatonya di wadah pemikir Lowy Institute.

Baca Juga

Morrison mengatakan dia kecewa dengan sikap diam China.

"Saya (berusaha) mendengarkan suara pemerintah China yang mengutuk aksi Rusia dan hanya ada keheningan yang mengerikan," kata dia.

China sebelumnya menolak untuk menyebut serangan Rusia ke Ukraina sebagai "invasi" seraya meminta negara-negara Barat untuk menghormati Rusia yang mengkhawatirkan keamanannya. Rusia melabeli tindakannya di Ukraina sejak 24 Februari itu dengan istilah "operasi militer khusus" dan mengatakan tidak bermaksud untuk menduduki Ukraina.

Morrison menyebut serangan itu "pelanggaran berat terhadap hukum internasional" dan "contoh terkini rezim otoriter yang berusaha menentang status quo lewat ancaman dan kekerasan". Dia ditanya apakah invasi Rusia berjalan sesuai rencana seperti yang dikatakan Putin.

"Tak ada keraguan Tuan Putin tidak mendapatkan apa yang dia inginkan," kata Morrison.

Dia mengatakan Putin melebih-lebihkan kemampuannya dalam "perang ilegal" itu.

"Dari cara dia mengirim anak muda wajib militer ke medan tempur, saya tidak melihat hal itu beresonansi dengan baik di Rusia," kata Morrison.

Dia memperkirakan adanya "resistensi di Ukraina yang terus tumbuh seiring waktu".

"Saya pikir setiap raihan yang bisa direbut (Rusia) akan menjadi sangat sulit untuk dipertahankan," katanya.

Ketika banyak negara menjatuhkan sanksi, China telah melonggarkan tarif gandum dan akan memasok sistem pembayaran UnionPay ke Rusia, kata Morrison.

"Selama mereka bertaruh dengan cara seperti ini, maka saya takut pertumpahan darah akan terus berlanjut," kata dia.

Morrison juga mengatakan bahwa tatanan dunia terancam oleh "busur otokrasi". "Busur otokrasi yang baru sedang diarahkan untuk menantang dan mengubah tatanan dunia dengan citranya sendiri," kata Morrison.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile