Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

 

6 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Anak Jadi Cepat Bosan-Sering Tantrum? Social Distancing Bisa Jadi Penyebabnya

Kamis 17 Mar 2022 12:05 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Sejumlah anak dengan mengenakan masker bermain di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Si Pitung, kawasan Rusunawa Marunda, Jakarta Utara, Selasa (15/3/2022). Penerapan social distancing selama pandemi Covid-19 telah memengaruhi perkembangan anak.

Sejumlah anak dengan mengenakan masker bermain di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Si Pitung, kawasan Rusunawa Marunda, Jakarta Utara, Selasa (15/3/2022). Penerapan social distancing selama pandemi Covid-19 telah memengaruhi perkembangan anak.

Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat
Social distancing telah memengaruhi aspek-aspek perkembangan anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pembatasan interaksi sosial (social distancing) di masa pandemi Covid-19 ternyata telah memengaruhi tiga aspek penting dalam perkembangan anak. Apa saja aspek-aspeknya?

 

"Mulai dari perkembangan bahasa dan kognitif, perkembangan motorik dan sensorik, dan perkembangan sosial dan emosional," jelas psikolog anak dan keluarga Samanta Elsener dalam sebuah acara virtual pada Kamis (17/3/2022).

Baca Juga

Dari aspek perkembangan bahasa dan kognitif, social distancing telah menyebabkan speech delay atau keterlambatan perkembangan keterampilan berbicara anak. Samanta menyebut, banyak studi yang mengemukakan hal tersebut.

"Bahkan, ada anak yang kata pertamanya bukan mama papa atau ibu bapak lagi, tapi mask atau masker. Saking yang dilihat itu-itu lagi dan selalu jadi pembahasan di dalam rumah," kata Samanta.

Sementara itu, dari aspek perkembangan motorik dan sensorik, Samanta menjelaskan, banyak anak yang mengalami keterbatasan ruang gerak. Sejak pandemi, anak-anak yang biasanya selalu bermain di sekolah maupun di taman, kini tak bisa lagi melakukan aktivitas tersebut.

Apalagi, menurut Samanta, situasi di setiap rumah tentu berbeda-beda. Sedangkan dari aspek perkembangan sosial dan emosional, pandemi telah membuat anak merasa cemas jika bertemu langsung dengan orang lain, terutama yang baru dia temui.

"Mereka enggak bisa main, padahal kan biasanya anak bersosialisasi. Bahkan, saat ketemu orang itu mereka cemas. Biasa ketemu melalui video call, ketika bertemu langsung ada keanehan sosial, cemas, malu. Mereka butuh waktu lama untuk bisa observasi lagi," ujar Samanta.

Selain itu, Samanta mengatakan, penggunaan gawai yang berlebihan selama pandemi juga meningkatkan pengaruh terhadap ketiga aspek tersebut. Sebab, anak tidak mendapatkan stimulasi yang tepat.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile