Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

1 Zulhijjah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Survei BPS Ungkap 61 Persen Masyarakat Bosan Jalani Protokol, Satgas: Prokes Wajib

Jumat 18 Mar 2022 04:47 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito meminta masyarakat agar meningkatkan kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan 3M. Ia mengatakan, penerapan protokol kesehatan perlu diperkuat mengingat turunnya jumlah testing yang bisa berdampak pada kemampuan untuk membedakan orang yang positif.

Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito meminta masyarakat agar meningkatkan kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan 3M. Ia mengatakan, penerapan protokol kesehatan perlu diperkuat mengingat turunnya jumlah testing yang bisa berdampak pada kemampuan untuk membedakan orang yang positif.

Foto: Satgas Covid-19.
Satgas meminta prokes diperkuat karena menurunnya jumlah testing

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito meminta masyarakat agar meningkatkan kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan 3M. Ia mengatakan, penerapan protokol kesehatan perlu diperkuat mengingat turunnya jumlah testing yang bisa berdampak pada kemampuan untuk membedakan orang yang positif.

“Terlebih lagi, mengingat kasus tanpa gejala yang tidak sedikit jumlahnya, jangan sampai ketidaktaatan kita pada protokol kesehatan justru menjadikan kita sumber penularan bagi orang lain apalagi kelompok rentan,” jelas Wiku saat konferensi pers, dikutip pada Jumat (18/3/2022).

Berdasarkan hasil survei BPS pada Februari 2022, banyak masyarakat yang tak lagi patuh menjalankan protokol kesehatan dengan alasan jenuh yakni sebesar 61,2 persen. Kemudian dengan alasan tidak nyaman yang sebesar 46 persen, alasan merasa situasi sudah aman sebesar 32 persen, alasan yakin tak tertular sebesar 24,2 persen, dan alasan tidak ada sanksi yang sebesar 22,7 persen.

Ia pun menyayangkan sikap masyarakat tersebut, mengingat penerapan prokes merupakan hal yang paling mudah, murah, dan efektif untuk menjaga kasus tetap rendah dan mempertahankan produktivitas ekonomi.

“Saya percaya, kita bisa menjunjung tinggi kewajiban bersama tersebut dibandingkan ego pribadi kita seperti jenuh, tidak nyaman, dan merasa yakin tidak tertular,” ujar Wiku.

Wiku Adisasmito juga meminta masyarakat meningkatkan kesadarannya untuk mengisolasi diri jika terdeteksi positif Covid-19.“Tentunya upaya keras kita bersama untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan dan melakukan tes akan sempurna jika dibarengi dengan kesadaran tinggi dari orang yang teridentifikasi positif untuk mengisolasi dirinya,” jelas Wiku.

Namun sayangnya, kata Wiku, akhir-akhir ini tak sedikit laporan tentang perilaku masyarakat yang tak bertanggung jawab dan membahayakan keselamatan bersama. Ia mencontohkan adanya laporan terdapat beberapa orang yang tetap bepergian meskipun sudah dinyatakan positif karena dihapuskannya syarat testing perjalanan.

“Untuk itu, mohon kepada masyarakat yang positif untuk mengisolasi dirinya sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Kemenkes demi keselamatan bersama terutama kelompok rentan,” kata Wiku.

Wiku pun mengingatkan, di masa adaptasi saat ini, pengendalian kasus, keselamatan bersama, dan ketahanan produktivitas ekonomi diserahkan ke tiap individu.

“Mari kita sadari, setiap hal kecil yang kita lakukan mulai dari memakai masker, menjaga jarak atau menghindari kerumunan, mencuci tangan, serta melakukan tes dan mengisolasi diri jika positif merupakan jaminan keberlanjutan produktivitas masyarakat,” jelas dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile