Sunday, 29 Safar 1444 / 25 September 2022

Sunday, 29 Safar 1444 / 25 September 2022

 

29 Safar 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Sebanyak 11 Orang Indonesia Meninggal Akibat TB Per Jam

Kamis 24 Mar 2022 16:09 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati / Red: Nashih Nashrullah

Diperkirakan 98 ribu orang Indonesia tidak tertolong akibat menderita tuberkulosis per tahun, atau dengan kata lain sekitar 11 orang setiap jamnya. (ilustrasi)

Diperkirakan 98 ribu orang Indonesia tidak tertolong akibat menderita tuberkulosis per tahun, atau dengan kata lain sekitar 11 orang setiap jamnya. (ilustrasi)

Foto: www.freepik.com.
Angka pasien TB di Indonesia terbilang tinggi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Angka penyakit tuberkulosis (TB) di Indonesia masih tinggi bahkan mengakibatkan 13.110 orang meninggal akibat penyakit ini. Bahkan, 11 orang meninggal dunia akibat TB per jamnya.  

 

"Berdasarkan data organisasi kesehatan dunia PBB (WHO) Global Tuberculosis Report 2021, 11 orang di Indonesia meninggal akibat TB setiap jamnya. Kalau dilihat, angka ini cukup tinggi karena berapakah orang yang meninggal akibat kecelakaan di seluruh Indonesia? Sedangkan orang yang meninggal akibat TB sebanyak 11 orang per jam," kata Dokter Spesialis Paru yang juga anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Jakarta, Sry Dhuny, saat mengisi konferensi virtual Kalbe bertema hari TB sedunia 2022, Kamis (24/3/2022).

Baca Juga

Menurut Dhuny, belasan kematian akibat TB per jam bukanlah angka yang kecil. Dia mengingatkan, angka fatalitas kematian ini cukup besar dan ini harus jadi perhatian semua pihak. 

Lebih lanjut Dhuny juga mengutip data WHO Global Tuberculosis Report 2021 yang mencatat kematian akibat TB sebanyak 13.110. Laporan tersebut juga mengutip perkiraan kasus TB di Indonesia 824 ribu dan yang terverifikasi 393.323 atau hanya 48 persen. 

Kemudian yang mengalami TB kebal obat atau TB MDR sebanyak 7.921. Kemudian anak yang mengalami TB sebanyak 33.366. Persoalan semakin ditambah ketika fokus pengobatan TB ada di belakang karena fokus perhatian pemerintah pada Covid-19 sejak awal 2020 lalu.

"Sehingga, fokus eliminasi TB berkurang. Akibatnya semakin sedikit penderita TB yang diperiksa dan semakin sedikit yang diobati," katanya.

Padahal, dia mengingatkan TB dapat menginfeksi siapa saja, terutama orang yang memiliki kekebalan tubuh rendah. Artinya ada pemingkatan risiko TB ketika imunitas rendah. 

Dia menyontohkan penderita penyakit gula darah diabetes mellitus (DM) yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah dan memiliki risiko dua hingga tiga kali lipat untuk sakit TB dibandingkan yang tidak sakit TB. 

Bila gula darahnya tidak terkontrol, dia melanjutkan, TB lebih lambat untuk disembuhkan. Dia menambahkan, infeksi Human immunodeficiency virus (HIV)/ Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) juga jadi salah satu risiko menderita penyakit penyerta (komorbid) TB. Karena orang yang terinfeksi HIV/AIDS mengalami penurunan daya tahan tubuh sehingga memungkinkan menderita TB. 

Bahkan, dia mengungkap data tiga dari 100 orang yang terinfeksi TB juga terinfeksi HIV/AIDS. Oleh karena itu, dia menyebutkan pemerintah telah memiliki program pasien DM dan HIV/AIDS wajib diperiksa TB. Sebaliknya, pasien TB juga wajib diperiksa HIV/AIDS dan DM. "Tetapi semua TB bisa disembuhkan. Semakin cepat ditemukan maka penularan kepada orang lain akan dikurangi," ujarnya.

Ia menambahkan, lama pengobatan TB minimal enam bulan dan bisa sembuh bila pengobatannya tepat. Kendati demikian, ia mengakui ada pasien yang putus obat karena kurang sabar. Selain itu, ada efek samping mual dan muntah meski proporsinya tak besar, hanya 30 persen sehingga pengobatan terhenti. Meski ada kemungkinan terjadi efek samping, Dhuny meminta pengobatan TB harus dilakukan. Sehingga, dia berharap keluarga mendukung pasien TB. Jangan sampai menghentikan pengobatan karena efek samping. 

Dia mengingatkan, keluarga memiliki peran supaya pasien TB berobat dengan teratur. Yang tak kalah penting adalah menghilangkan stigma pada masyarakat pasien TB sehingga dibutuhkan peran media.

Untuk mengeliminasi TB 2030, dia melanjutkan, diperlukan upaya bersama seluruh dunia dengan membuat komitmen yang kuat. "Bila semua orang semangat eliminasi TB maka eliminasi TB 2030 bisa tercapai," katanya.

Dia menambahkan, TB juga bisa dicegah dengan menerapkan gaya hidup sehat, konsumsi makanan bergizi yang meningkatkan daya tahan tubuh. Kemudian membuka jendela rumah agar mendapatkan cukup sinar matahari dan udara segar, menjemur alas tidur, lakukan vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG) untuk bayi supaya terhindar dari TB berat, hingga berolah raga secara teratur.   

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile