Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

 

6 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Houthi Umumkam Gencatan Senjata Tiga Hari

Ahad 27 Mar 2022 03:01 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Kelompok pemberontak Houthi Yaman

Kelompok pemberontak Houthi Yaman

Foto: AP
Gencatan senjata dapat permanen jika koalisi pimpinan Saudi mengakhiri operasi

REPUBLIKA.CO.ID, SANA'A -- Kelompok Houthi Yaman telah mengumumkan gencatan senjata tiga hari. Houthi mengatakan, gencatan senjata dapat menjadi permanen jika koalisi pimpinan Arab Saudi mengakhiri operasinya di Yaman.

 

Pernyataan itu muncul sehari setelah serangan pesawat tak berawak dan rudal menghantam sasaran di seluruh Arab Saudi, termasuk pabrik minyak di dekat balapan Formula Satu di Jeddah, yang memicu kebakaran besar. Pada Sabtu (26/3) setidaknya tujuh orang dilaporkan tewas dalam serangan udara yang dilakukan oleh koalisi pimpinan Saudi di Sana'a dan Hodeidah.

Baca Juga

Houthi mengatakan, serangan oleh koalisi Saudi menghantam pembangkit listrik, stasiun pasokan bahan bakar, dan kantor asuransi sosial yang dikelola negara di ibu kota.

Pemimpin politik Houthi, Mahdi al-Mashat mengumumkan penangguhan serangan rudal dan pesawat tak berawak. Termasuk semua tindakan militer untuk jangka waktu tiga hari.

“Ini adalah langkah-langkah praktis untuk membangun kembali kepercayaan, dan membawa semua pihak dari arena pembicaraan ke arena tindakan. "Kami siap untuk mengubah deklarasi ini menjadi komitmen final dan permanen jika Arab Saudi berkomitmen untuk mengakhiri pengepungan dan menghentikan serangannya di Yaman untuk selamanya,” ujar Al-Mashat, dilansir Aljazirah, Ahad (27/3).

Sejauh ini, belum ada tanggapan langsung dari Arab Saudi terkait gencatan senjata tersebut. Gencatan senjata terjadi pada peringatan ketujuh intervensi koalisi pimpinan Saudi untuk mendukung pemerintah Yaman, setelah Houthi yang didukung Iran merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Konflik tersebut telah menewaskan puluhan ribu orang. Termasuk sebagian besar warga sipil, serta menyebabkan jutaan orang menghadapi kelaparan dan penyakit.

Pada Sabtu, koalisi juga memberi Houthi tenggat waktu tiga jam untuk menarik senjata dari bandara Sana'a dan dua pelabuhan di Laut Merah. Peningkatan ketegangan terjadi ketika Dewan Kerjasama Teluk (GCC) berencana menggelar dialog bagi pihak-pihak yang bertikai di Riyadh pada akhir bulan.

Houthi menolak melakukan dialog di ibu kota Saudi, yang merupakan kantor pusat GCC. Houthi mengatakan, mereka tidak akan melakukan negosiasi di negara musuh.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile