Thursday, 20 Muharram 1444 / 18 August 2022

Thursday, 20 Muharram 1444 / 18 August 2022

 

20 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Penyebab Mengapa Timur Tengah Rentan Konflik Menurut Petinggi IMF

Selasa 29 Mar 2022 05:36 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi ekonomi di Lebanon. Timur Tengah bergantung pada komoditas yang rentan terdampak konflik

Ilustrasi ekonomi di Lebanon. Timur Tengah bergantung pada komoditas yang rentan terdampak konflik

Foto: AP/Hassan Ammar
Timur Tengah bergantung pada komoditas yang rentan terdampak konflik

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sebagian besar perhatian internasional saat ini terfokus pada invasi Rusia ke Ukraina. Namun, pejabat di Organisasi Dana Moneter Internasional, IMF menyebut perang itu berdampak besar pada kondisi di Timur Tengah.  

 

Pada satu sisi, Barat, yang dipimpin Amerika Serikat, berusaha menekan anggota OPEC+Teluk untuk meningkatkan produksi minyak. Namun di sisi lain, beberapa negara di kawasan ini berisiko mengalami kelangkaan pangan. 

Baca Juga

“Timur Tengah adalah salah satu [wilayah] paling rentan di dunia karena ketergantungannya pada komoditas,” kata seorang pejabat senior IMF dilansir dari Al Arabiya, Senin (28/3). 

Berbicara dengan para wartawan di Washington, pejabat itu mengatakan wilayah itu dikenal dengan tingkat konsumsi yang tinggi. 

Lebanon, misalnya, hanya memiliki pasokan gandum yang cukup untuk satu atau satu setengah bulan, kata menteri ekonomi negara itu pada awal bulan.

Dan Menteri Ekonomi dan Perdagangan Lebanon, Amin Salam, memperingatkan konsumsi yang lebih besar dari minyak, gula dan impor lainnya meningkat selama bulan Ramadhan mendatang. 

Banyak negara lain di wilayah MENA bergantung pada Ukraina dan Rusia untuk gandum. Pemerintah Mesir, misalnya, mengatakan perlu meningkatkan subsidi untuk barang-barang seperti roti. 

Sementara pejabat IMF mengatakan negara-negara pengekspor minyak berjalan "sangat baik", dia menyebutkan inflasi sebagai faktor yang tidak akan menyelamatkan negara mana pun di kawasan itu. “Ini semua adalah efek putaran kedua [inflasi] dari masalah yang dihadapi,” kata pejabat itu, merujuk pada perang di Ukraina.

Baca juga: Tentara Israel Paksa Diplomat Muslim Taiwan Baca Alquran

Pasokan minyak 

Menyusul keputusan Amerika Serikat untuk melarang impor minyak Rusia dan sebagian besar Eropa mengikutinya, Moskow terus melihat minyaknya dipompa ke Eropa dan bahkan Amerika Serikat melalui negara ketiga. Namun, keputusan itu memiliki konsekuensi, dengan harga minyak domestik yang meroket. 

Menurut pejabat senior IMF, peningkatan produksi dari negara-negara penghasil minyak bukanlah masalah. "Belum ada kejutan pasokan untuk kenaikan harga seperti yang mereka miliki;  ini adalah masalah geopolitik," ungkapnya.  

Pejabat itu dengan cepat mencatat bahwa ada kebutuhan masyarakat untuk membedakan antara minyak dan gas. Dampak larangan minyak Rusia tidak sebahaya keputusan untuk mencegah gas apa pun dari Moskow. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile