Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

 

4 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Menkes akan Tingkatkan Peran Posyandu untuk Surveilans Tuberkulosis

Selasa 29 Mar 2022 15:10 WIB

Red: Ratna Puspita

Ilustrasi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan meningkatkan peran posyandu untuk melakukan surveilans tuberkulosis (TB).

Ilustrasi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan meningkatkan peran posyandu untuk melakukan surveilans tuberkulosis (TB).

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Untuk mendeteksi penderita TB, Kemenkes akan gunakan sistem testing dan pelacakan.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin akan meningkatkan peran posyandu untuk melakukan surveilans tuberkulosis (TB). Menurutnya, jumlah posyandu di Indonesia yang mencapai sekitar 296.000 dapat berkontribusi dalam memerangi tuberkulosis. 

 

"Saat ini, layanan posyandu hanya untuk kesehatan ibu dan anak. Nanti kita akan minta posyandu lakukan surveilans TBC," ujar Menkes saat meninjau kegiatan pemeriksaan TBC di Puskesmas Girimulyo 1, Kulon Progo, DIY, Selasa (29/3/2022).

Baca Juga

Jumlah posyandu di Indonesia dapat menjangkau 512 kabupaten kota, 80 ribu desa. "Minimal harus ada 300.000 titik di seluruh Indonesia yang bisa melakukan surveilans. Surveilans harus dilakukan di level posyandu, karena jumlahnya cukup banyak," katanya.

Ia mengemukakan, surveilans merupakan tindakan promotif dan preventif suatu penyakit agar tidak menyebar lebih luas. "Yang namanya surveilans penyakit itu, tidak boleh ada insiden, baru kita surveilans. Jadi ada penyakit atau tidak, pandemi atau tidak harusnya surveilans terus dilakukan," katanya.

TB, menurut Menkes, merupakan salah salah satu penyakit yang tidak pernah selesai penanganannya. Karena itu, surveilans harus masif hingga sampai akar rumput.

"Intinya Kementerian Kesehatan ingin membuat masyarakat sehat, bukan menyembuhkan orang sakit. Saat ini anggaran kita, waktu kita lebih banyak ngurusin rumah sakit, obat-obatan, serta alat-alat rumah sakit. Itu sifatnya kuratif, kita maunya promotif dan preventif," tuturnya.

Menkes Budi menambahkan, untuk mendeteksi penderita TB, Kemenkes akan menggunakan sistem testing dan pelacakan seperti yang telah digunakan dalam penanganan Covid-19. "Jadi dengan pandemi ini kita belajar bagaimana bisa memperbaiki penanganan penyakit menular. Kayak TB misalnya, yang namanya tracing itu kan sudah ada di sistem Covid-19, di TB belum dipakai. Kita bisa pakai sistemnya," katanya.

Untuk testing TB, ia menambahkan, juga bisa menggunakan laboratorium pengujian PCR yang selama ini umum digunakan untuk mendeteksi Covid-19. "Laboratorium untuk PCR dan TCM (Tes Cepat Molekuler untuk TB) itu sebenarnya sama teknologinya. Jadi semua laboratorium PCR harusnya bisa buat uji TBC," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile