Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

4 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

7 Saran untuk Pemerintah Dukung Kelancaran Mudik

Sabtu 23 Apr 2022 16:16 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwanum/ Red: Nashih Nashrullah

Ilutrasi mudik. Kelancaran mudik perlu dikaji lagi lebih mendalam

Ilutrasi mudik. Kelancaran mudik perlu dikaji lagi lebih mendalam

Foto: Antara/Dedhez Anggara
Kelancaran mudik perlu dikaji lagi lebih mendalam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak pemudik yang memilih menggunakan jalan tol dibandingkan jalan non tol. Terutama setelah terhubung jaringan jalan Tol Trans Jawa 2018. 

Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno, menjelaskan euforia terjadi, jalan non tol yang biasanya ramai menjadi lebih lengang beralih memilih jalan tol. Sampai-sampai bahu jalan digunakan untuk beristirahat, karena rest area sudah tidak dapat menampung pemudik untuk istirahat,” kata dia dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/4). 

Baca Juga

Berdasarkan hasil survei ketiga Badan Litbang, Kementrian Perhubungan (Maret 2022), adanya potensi pergerakan Nasional selama angkutan Lebaran 2022 sebanyak 85,5 juta orang dan 14,3 juta orang (16,7 persen) di antaranya merupakan pemudik dengan asal wilayah Jabodetabek. 

Pilihan pemudik menggunakan jalan Tol Trans Jawa 24,1 persen. Lebih tinggi daripada pilihan menggunakan jalur lintas tengah Jawa 9,7 persen, Tol Cipularang 9,2 persen, jalur lintas pantai utara (pantura) Jawa 8,2 persen, Trans Sumatra (non tol) 4,7 persen, Tol Jagorawi 4,2 persen, jalur lintas selatan (pansel) Jawa 3,7 persen, Tol Jakarta-Merak 3,5 persen, dan Tol Bocimi (Bogor-Ciawi-Sukabumi) 0,7 persen, sisanya jalan lainnya 31,8 persen. 

Keberadaan jalan tol, kata dia, memang dapat memangkas sekitar 50 persen–60 persen waktu perjalanan dibanding di jalan non tol. Keberadaan jalan tol di Jawa memunculkan angkutan pelat hitam, sementara jalan tol di Sumatra dapat menghilangkan praktek angkutan pelat hitam. 

“Peningkatan layanan rest area jaringan jalan Tol Trans Jawa yang mayoritas diusahakan PT Jasa Marga harus melakukan banyak upaya dalam memenuhi layanan bagi pemudik,” ujarnya. 

Upaya itu antara lain, pertama penambahan fasilitas peturasan/toilet portabel di TIP Tipe A dan TIP Tipe B, ketersediaan air bersih, toilet harus bersih dan wangi, serta penambahan petugas kebersihan. 

Kedua, menerapkan prokes Covid-19 serta sosialisasi melalui spanduk dan public address, Tagline Mudik “Vaksinasi booster, mudik sehat dan aman”. 

Ketiga, implementasi Management Rest Area dengan Rest Area Management System (RAMS) dalam menginformasikan kapasitas parkir kepada pengguna jalan tol sebelum masuk rest area dan rest area berikutnya. 

Keempat, penyediaan sarana perambuan, rubber cone, water barrier saat oneway dan buka/tutup akses, menambah petugas keamanan. 

Kelima, memastikan keberfungsian RAMS, CCTV, public addres, videotron, menambahkan nomor telepon pengaduan (PIC Satgas). Enam, memastikan ketersediaan BBM, BBM Modular/Pertashop, BBM Motorist, bengkel motorist, layanan top up, posko layanan, pasokan listrik.

Ketujuh, menyampaikan informasi saat diberlakukan oneway melalui public address serta lama waktu di rest area (maksimal 30 menit). 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile