Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

 

6 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Bupati Pandeglang Imbau Nelayan tak Dekati Gunung Anak Krakatau

Selasa 26 Apr 2022 05:00 WIB

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra

Bupati Pandeglang Irna Narulita.

Bupati Pandeglang Irna Narulita.

Foto: Antara
Masyarakat pesisir harus tetap waspada karena Pantai Pandeglang masuk zona tsunami.

REPUBLIKA.CO.ID, PANDEGLANG -- Bupati Pandeglang Irna Narulita mengimbau nelayan tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Hal itu menyusul terjadi peningkatan aktivitas kegempaan yang cukup membahayakan. "Kami minta nelayan hanya di radius lima kilometer dari kawasan erupsi Gunung Anak Krakatau," katanya di Kabupaten Pandeglang, Banten, Selasa (26/4/2022).

 

Kegempaan aktivitas Gunung Anak Krakatau kini berstatus Siaga Level III dari sebelumnya Waspada Level II. Dengan peningkatan status Siaga Gunung Anak Krakatau, kata Irna, tentu nelayan diminta tidak mendekati kawasan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Selain itu, masyarakat pesisir juga harus tetap waspada karena pesisir Pantai Pandeglang masuk zona merah tsunami. Meski begitu, sambung dia, saat ini kondisi pesisir pantai relatif normal dan pedagang tetap melakukan aktivitas berjualan seperti biasa.

Begitu juga pemilik hotel dan vila beroperasi dan menerima wisatawan yang berekreasi di pesisir Pantai Pandeglang. "Kami berharap pada bulan Ramadhan itu tidak terjadi bencana yang diakibatkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau," kata Irna.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono menyatakan, gunung itu berkemungkinan membentuk badan baru setelah erupsi tahun 2018. Saat erupsi, material yang bertumpuk membentuk badan tersebut dapat terlontar hingga radius lima kilometer.

Dia menjelaskan, longsoran material yang terjadi saat erupsi Gunung Anak Krakatau bisa membentuk potensi tsunami seperti yang terjadi pada tahun 2018. "Mungkin saat ini kalau kita bandingkan dengan tahun itu, volumenya belum sebesar itu, dan juga dari sisi morfologi, juga belum curam," kata Eko.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile