Ahli Gizi: Biasakan Puasa Setelah Ramadhan untuk Detokfisikasi

Rep: Dessy Susilawati/ Red: Muhammad Hafil

 Rabu 04 May 2022 01:50 WIB

Ahli Gizi: Biasakan Puasa Setelah Ramadhan untuk Detokfisikasi. Foto:   Ibadah puasa. Ilustrasi Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA Ahli Gizi: Biasakan Puasa Setelah Ramadhan untuk Detokfisikasi. Foto: Ibadah puasa. Ilustrasi

Puasa setelah Ramadhan bermanfaat untuk detoksifikasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Ramadhan telah berlalu, banyak masyarakat yang merasa sedih dan merindukan kembali bulan Ramadhan. Sebenarnya, kita bisa menghidupkan kembali nuansa Ramadan dirumah salah satunya dengan membiasakan diri berpuasa di luar bulan Ramadhan.

Hal tersebut diungkapkan oleh dokter spesialis gizi, dr Tirta Prawita Sari, M.Sc., SpGK. Ia menjelaskan pola makan adalah salah satu upaya menghindari berbagai macam penyakit kronis dan katastropik yang membutuhkan biaya banyak. Contohnya stroke, diabetes, penyakit jantung dan hipertensi. Padahal hal tersebut bisa dicegah dengan cara diet atau puasa.

Baca Juga

"Karena dengan berpuasa kita melatih eating pattern atau pola makan kita yang mana diet tersebut adalah salah satu jenis faktor resiko yang dapat dimodifikasi oleh kita dan memperkecil kemungkinan munculnya penyakit kronis pada seseorang," jelasnya dalam Seri Webinar Ramadhan 1443H : Menghadirkan Spirit Ramadhan Di Luar Bulan Ramadhan, belum lama ini.

Ketua Yayasan Gema Sadar Gizi ini menjelaskan orang dengan obesitas misalnya, mereka memiliki resiko lebih besar menderita penyakit kronis karena adanya hiperinsulinemia. Ini nantinya akan menyebabkan situasi yang tidak menguntungkan yaitu gangguan metabolisme glukosa dan beberapa gangguan metabolisme lain seperti, gangguan metabolisme seperti asam urat, gangguan profil lipid darah atau dislipidemia, serta gangguan hemodinamik.

Sehingga nantinya seseorang dengan obesitas itu rentan mengidap penyakit-penyakit kronik tersebut. "Maka dari itu mencegah obesitas berarti mencegah terjadinya penyakit kronis," tambahnya.

Dokter Spesialis Gizi Klinik di RS. Pondok Indah ini mengungkapkan bahwa puasa adalah cara detoksifikasi tubuh yang murah dan mudah. Puasa dapat menyebabkan kadar glukosa darah mengalami penurunan, dan menyebabkan tubuh mengambil cadangan energi lain dalam bentuk lemak atau free fatty acid sebagai sumber energi dan itu baik sebagai upaya membersihkan atau detokfikasi tubuh.

"Dalam Ramadhan kita diatur untuk berpuasa dalam 13 sampai 14 jam dan berbuka setelahnya, pola ini mirip dengan pola makan-puasa yang baik yaitu intermitten fasting," paparnya.

Ada beberapa contoh intermitten fasting. Seperti, alternate day fasting yang mana puasa berselang seling seperti puasa Dawud. Bedanya saat hari puasa itu hanya boleh makan 500 kalori, dan hari berikutnya adalah feast day yang boleh dalam jumlah yang kita inginkan tanpa perlu memusingkan kalori.”

Selain itu, ada juga pola The 5:2 diet yaitu, 5 hari tidak berpuasa, 2 hari berpuasa. Kalau dalam Islam bisa kita aplikasikan pada puasa senin kamis, tapi dalam ketentuan ketika berbuka pada hari senin dan kamisnya itu intake kita hanya 500.1000 kalori, 5 hari lainnya feast day.

"Kenapa hanya 500 sampai 1000 kalori? Karena itu adalah jumlah kalori minimal yang kita butuhkan sehingga pekerjaan dasar tetap bisa kerjakan," jelasnya.

Ia mengatakan badan kita itu menyukai sesuai yang rutin. Karena ada pembiasaan, maka harusnya setelah lebaran aktifitas puasa itu harus dikembalikan agar kita masih terbiasa dengan kebiasan puasa, terbiasa untuk pola makan yang sehat.

 

Berita Lainnya

Play Podcast X