Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

 

8 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

IDI Imbau Masyarakat Tak Perlu Panik dengan Penyakit Mulut dan Kuku

Rabu 11 May 2022 17:32 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Bayu Hermawan

Prof Zubairi Djoerban.

Prof Zubairi Djoerban.

Foto: Dok pribadi
IDI imbau masyarakat tidak perlu panik dengan penyakit mulut dan kuku.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketua Dewan Pertimbangan PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof dr Zubairi Djoerban, mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu khawatir dengan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK), yang menyebar melalui lendir dan angin, menyerang ribuan hewan ternak di Jawa Timur. Meskipun pernah dilaporkan menyerang manusia, namun kasusnya tidak banyak.

 

"Tidak perlu khawatir. Enggak perlu panik, enggak perlu khawatir. Kasus penularan virus PMK ke manusia itu amat rendah," ujar Zubairi dalam keterangannya, Rabu (11/5/2022).

Baca Juga

Zubairi mengatakan, sejak 1960-an baru ada 40 kasus yang menular ke manusia, salah satunya di Chili. Ia menuturkan, bila pada manusia penyakitnya itu adalah Hand Footh and Mouth Disease (HFMD) yang disebabkan oleh Virus RNA yang masuk dalam Familia Picornaviridae.

"Gejalanya timbul bercak kemerahan. Bukan dari virus PMK itu," kata Zubairi.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan penyakit mulut dan kuku yang menyerang sejumlah hewan ternak di Jawa Timur sangat jarang ditemukan menular ke manusia.

"Kami sudah diskusi dengan WHO, Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE), bahwa penyakit mulut dan kuku ini memang domainnya ada di hewan jadi hampir tidak ada yang loncat ke manusia," ujarnya, Senin (9/5/2022).

Menkes menambahkan, virus yang menyerang hewan ini berbeda dengan SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang ditularkan hewan kalelawar ke manusia, maupun flu babi dan flu burung. "Khusus untuk mulut dan kuku, virus ini memang adanya hanya di hewan yang berkuku dua, jadi sangat jarang yang meloncat ke manusia. Jadi tidak perlu khawatir dari sisi kesehatan manusianya," kata Menkes.

Hal senada diungkapkan Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Prof. Tjandra Yoga Aditama. Ia mengatakan, penyakit mulut dan kuku (PMK) atau Foot and Mouth Disease (FMD) adalah penyakit pada hewan yang praktis tidak menular pada manusia.

"PMK bukanlah masalah kesehatan masyarakat, dan sepenuhnya masalah kesehatan hewan. Memang pernah ada laporan penularan pada manusia, seperti misalnya disampaikan European CDC pada 2012 yang berjudul "Transmission of Foot and Mouth disease to humans visiting affected areas", tetapi itu adalah sangat jarang dan hanya terjadi pada mereka yang betul-betul kontak langsung," jelasnya.

Memang, sambungnya, terkadang ada yang keliru menghubungkan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan dengan Penyakit Tangan Kaki dan Mulut (PTKM) (Hand Foot Mouth Disease – HFMD) pada anak dan bayi. Padahal, keduanya tidak berhubungan sama sekali, dua penyakit berbeda, penyebabnya juga virus yang berbeda

Karena, bila Penyakit Tangan Kaki dan Mulut (PTKM) (Hand Foot Mouth Disease – HFMD) pada anak dan bayi maka disebabkan oleh enterovirus 71, sementara penyakit mulut dan kuku (PMK) atau Foot and Mouth Disease (FMD) pada hewan disebabkan Aphthovirus, yang merupakan bagian dari Picornaviridae, dan ada 7 strainnya (A, O, C, SAT1, SAT2, SAT3, dan Asia1). 

Sebagai informasi bahwa Penyakit Tangan Kaki dan Mulut (PTKM) (Hand Foot Mouth Disease – HFMD) pada anak dan bayi ditandai dengan demam; munculnya rash (ruam pada kulit) dan blister (benjolan kecil) di telapak kaki, tangan dan mukosa mulut, cenderung tidak nafsu makan, malaise dan nyeri tenggorok. Biasanya, setelah satu atau dua hari setelah demam, timbul keluhan nyeri di mulut dimulai dari blister sampai kemudian dapat menjadi mucus. Lesi dapat terjadi pada lidah, gusi atau bagian dalam mulut lainnya.

"Penyakit Tangan Kaki dan Mulut (PTKM) (Hand Foot Mouth Disease – HFMD) pada anak dan bayi bukanlah penyakit berat, dan akan sembuh dalam 7-10 hari, pengobatan hanya bersifat suportif," katanya.

Walau pada kejadian sangat jarang, HFMD akibat EV 71 juga dapat menyebabkan meningitis dan bahkan encephalitis. Infeksi EV 71 bermula dari saluran cerna yang kemudian menimbulkan gangguan neurologik. Selain itu, HFMD akibat coxsackievirus A16 juga dapat menyebabkan meningitis.

 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile