Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

27 Zulqaidah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Penjelasan BMKG Soal Suhu Panas yang Akhir-Akhir Ini Resahkan Warga Bukittinggi

Rabu 18 May 2022 22:05 WIB

Rep: Febrian Fachri/ Red: Ani Nursalikah

Ilustrasi cuaca panas. Penjelasan BMKG Soal Suhu Panas yang Akhir-Akhir Ini Resahkan Warga Bukittinggi

Ilustrasi cuaca panas. Penjelasan BMKG Soal Suhu Panas yang Akhir-Akhir Ini Resahkan Warga Bukittinggi

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Biasanya, Kota Bukittinggi terkenal dengan suhu dingin.

REPUBLIKA.CO.ID, BUKITTINGGI -- Kepala Stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) Bukit Kototabang, Sumatra Barat Sugeng Nugroho menjelaskan kenaikan suhu akhir-akhir ini di Kota Bukittinggi dan sekitarnya. Biasanya, Kota Bukittinggi terkenal dengan suhu dingin, terlebih di malam hari.

"Dulu warga (Bukittinggi) tidak merasakan gerah di malam hari. Sekarang merasakan," kata Sugeng di kantornya, Rabu (18/5/2022).

Baca Juga

Sugeng melihat ada empat faktor yang kemungkinan menyebabkan suhu di Bukittinggi dan sekitarnya panas, bahkan di malam hari. Pertama, menurut dia, panas di siang hari pada Maret dan April itu sebuah kewajaran karena lintasan matahari berada di atas ekuator sehingga suhu panas relatif tinggi.

Kedua, karena adanya peralihan musim. Biasanya puncak musim hujan itu terjadi pada Maret. Sekarang bergeser ke Mei. Puncak musim hujan itu terjadi pada Mei, frekuensi tutupan awan itu menurut Sugeng terjadi pada Mei.

Karena tutupan awan itu meningkat. Panas yang naik dari bumi kembali ke bumi sehingga suhu bumi semakin gerah.

Ketiga, bisa jadi karena efek pemanasan global. Pemanasan global menurut dia memang sudah menjadi isu global di mana suhu bumi cenderung terus meningkat.

Faktor keempat adalah perubahan kota. Sebelumnya, Ruang Terbuka Hijau (RTH) cukup banyak.

Sekarang RTH berubah menjadi bangunan dan permukiman sehingga lahan yang biasanya ditumbuhi pepohonan sekarang sudah ditutupi dengan beton. "Nah, ini perlu ada kajian akademi lebih dalam, seberapa besar dampak perubahan RTH menjadi bangunan kepada suhu bumi," ucap Sugeng.

Sugeng menambahkan ada juga faktor emisi kendaraan yang semakin lama semakin banyak sehingga mencemari udara segar.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile