Menkop UKM Sebut Empowering Perempuan Bisa Lewat UMKM Kuliner

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Muhammad Fakhruddin

 Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Teten Masduki, saat mengunjungi bazaar UMKM di Royal Ambarukmo, Sleman, DIY, Rabu (18/5/2022).
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Teten Masduki, saat mengunjungi bazaar UMKM di Royal Ambarukmo, Sleman, DIY, Rabu (18/5/2022). | Foto: Silvy Dian Setiawan

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN -- Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki mengatakan, empowering atau pemberdayaan perempuan dapat dilakukan melalui UMKM kuliner. UMKM kuliner dinilai dapat berdaya saing dengan produk industri dan permintaan masyarakat terhadap sektor ini juga dinilai cukup besar.

"Kita bisa memilih sektor makanan dan minuman karena market dan demand-nya juga cukup besar, dan bisa bersaing dengan industri karena hadir lebih dekat dengan masyarakat, produksinya lebih mudah dijangkau dan lebih kompetitif," kata Teten usai menghadiri G20 Side Event Rebuilding Women's Productivity Post Pandemic di Royal Ambarrukmo, Sleman, DIY, Rabu (18/5/2022).

UMKM merupakan penyumbang perekonomian terbesar, termasuk di Indonesia. Teten menuturkan, sebagian pelaku UMKM di Indonesia sendiri merupakan perempuan.

Setidaknya, 64 persen dari 64 juta UMKM di Indonesia merupakan milik perempuan. 76 persen dari total UMKM perempuan tersebut, katanya, terdampak pandemi Covid-19.

Baca Juga

Untuk itu, ia menilai pengembangan produk UMKM penting untuk dilakukan. Menurutnya, UMKM harus memiliki research and development (RnD).

"Yang perlu dikembangkan kedepan justru UMKM itu harus punya RnD (research and development) untuk pengambangan produk, supaya produknya inofatif," ujar Teten.

Teten mencontohkan, brand-brand besar yang bergerak di sektor kuliner atau fashion dikarenakan fokus melakukan RnD. Teten menyebut, hal ini perlu dicontoh oleh UMKM di Indonesia agar produk yang dihasilkan dapat terus berkembang.

"Brand (besar) itu dia hanya fokus melaksanakan RnD design maupun bahan baku supaya harganya masuk ke HPP (harga pokok penjualan). Terus disitu, mereka tidak punya produksi sendiri, produksinya justru di-apply, ini harus ditiru oleh UMKM," jelasnya.

Teten juga mengatakan perlu adanya penataan sistem produksi UMKM melalui pembagian kerja. Pasalnya, kata Teten, UMKM tidak dapat bergerak sendiri dalam pengembangan produk maupun dalam meningkatkan produktivitas.

"Jadi ada pembagian kerja, tidak mungkin UMKM memiliki semua keahlian, terlalu mahal. Karena itu sekarang kita harus bekerja dalam konsep rantai pasok," katanya.

Melalui konsep rantai pasok, Teten berharap kedepannya UMKM tidak hanya menjadi ekonomi rumah tangga. Namun, diharapkan UMKM dapat menjadi bagian dari industri.  

"Kedepan UMKM kita itu terintegrasi dengan industri, saya tidak ingin UMKM itu kedepan ekonomi rumah tangga, tapi UMKM itu menjadi bagian dari pada industri. Konsepnya rantai pasok, seperti UMKM di Jepang, di Korea dan China," tambah Teten.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Terkait


Sleman Mudahkan Petani dan UMKM Beli Solar di SPBU

Tingkatkan Kualitas Produk UMKM, Kemenkop UKM Bangun Factory Sharing

Program Adopsi Teknologi Digital 4.0 bagi UMKM, Menkominfo Dorong Kolaborasi di 13 Kawasan Prioritas

Presiden Joko Widodo Kunjungi Pasar Cibinong

BI: Perbankan Salurkan 21,95 Persen Kredit ke UMKM di kuartal I 2022

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark