Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

1 Zulhijjah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

IFG: Dana Pensiun Bisa Kurangi Ketergantungan RI dari Modal Asing

Rabu 18 May 2022 16:53 WIB

Rep: ANTARA/ Red: Fuji Pratiwi

IFG (ilustrasi). IFG menilai dana pensiun bisa mengurangi ketergantungan negara dari aliran modal asing.

IFG (ilustrasi). IFG menilai dana pensiun bisa mengurangi ketergantungan negara dari aliran modal asing.

Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Kalau dana pensiun besar, Indonesia bisa investasi dan kurangi dependensi pada asing.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Senior Executive VP Indonesia Financial Group (IFG) Progress, Reza Siregar mengatakan, dana pensiun bisa mengurangi ketergantungan negara dari aliran modal asing. Karena menurut pejabat lembaga thinktank di bawah IFG itu, Indonesia merupakan negara dengan penduduk keempat terbesar di dunia dengan jumlah penduduk usia 15-70 tahun sebesar 170 juta jiwa yang seharusnya sudah menyiapkan dana pensiun.

"Saya percaya kalau dana pensiun kita besar itu tidak hanya kita bisa saling mengisi investasi, tetapi juga mengurangi dependensi kita terhadap kapital asing," kata Reza dalam konferensi pers terkait IFG International Conference di Jakarta, Rabu (18/5/2022).

Baca Juga

Reza mengungkapkan, Indonesia bisa mencontoh beberapa negara di Asia dan ASEAN dengan tingkat penetrasi keuangan yang jauh lebih tinggi, seperti Singapura, Jepang, dan Malaysia. "Jadi, saving-nya bisa kita jadikan basis buat capital dana pensiun kita. Itu bisa jaga investasi, tanpa kita harus dependensi dari luar. Investasinya juga yang baik yang berbentuk jangka panjang," ucapnya.

Adapun untuk mencapai penetrasi asuransi yang luas, Indonesia harus memperluas literasi keuangan. Sebab Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2019 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan baru sebesar 38,03 persen.

Tingkat literasi asuransi sendiri baru mencapai 19,4 persen. Sementara, indeks inklusi keuangan sebesar 76,19 persen.

"Jadi (literasi keuangan, pembenahan kebijakan, dan mitra partnership) perlu saling mengisi. Trust atau kepercayaan harus kita buat, literasi penting, dan mudah-mudahan kita bisa bangkit," tandas Reza.

Direktur Utama Indonesia Financial Group (IFG) Robertus Billitea sebelumnya menuturkan, literasi keuangan yang rendah menjadi salah satu penyebab rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia.

 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile