Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

30 Zulqaidah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Sepertinya Kita Sampai pada Periode Akhir Pandemi

Jumat 20 May 2022 22:16 WIB

Red: Andri Saubani

Pekerja melintas di pelican crossing kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (17/5/2022). Pemerintah melalui Presiden Joko Widodo melonggarkan kebijakan aturan terkait pemakaian masker yakni memperbolehkan tidak mengenakan masker di luar ruangan apabila tidak dalam kondisi kerumunan, hal tersebut menyusul kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini terkendali. Republika/Thoudy Badai

Pekerja melintas di pelican crossing kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (17/5/2022). Pemerintah melalui Presiden Joko Widodo melonggarkan kebijakan aturan terkait pemakaian masker yakni memperbolehkan tidak mengenakan masker di luar ruangan apabila tidak dalam kondisi kerumunan, hal tersebut menyusul kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini terkendali. Republika/Thoudy Badai

Foto: Republika/Thoudy Badai
Pelonggaran masker jadi tanda Indonesia berada pada transisi pandemi ke endemi.

Oleh : Andri Saubani, jurnalis Republika.

REPUBLIKA.CO.ID, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Selasa (17/5/2022) mengumumkan pelonggaran kebijakan pemakaian masker di luar ruangan atau area terbuka. Kewajiban tes PCR maupun antigen bagi pelaku perjalanan dalam negeri dan luar negeri yang sudah divaksinasi lengkap juga dicabut dan mulai berlaku, Rabu (18/5/2022). 

Keputusan pemerintah terbilang melegakan karena menjadi tanda bahwa Indonesia tengah bersiap atau pada masa transisi dari pandemi menuju endemi. Setelah dua tahun menjalani aktivitias dengan beraragam pembatasan, Indonesia saat ini berada di ujung pandemi yang dicerminkan melalui statistik kasus Covid-19 yang terus mengalami penurunan.

Baca Juga

Berdasarkan data Satgas Covid-19 pada pekan ini, Indonesia terus menunjukkan perbaikan pada indikator kasus aktif dan kesembuhan. Kasus aktif tingkat nasional menunjukkan tren penurunan menjadi 0,08 persen pada pekan terakhir di mana angka ini lebih rendah sekitar 4 persen di bawah rata-rata kasus dunia.

Jika jumlah kasus aktif nasional pada 8 Mei lalu terdapat 6.000 orang penderita Covid, per 15 Mei turun menjadi sekitar 4.700 orang. Di angka kesembuhan, terjadi peningkatan jumlah orang sembuh pada level nasional di pekan ini yakni 3.600 orang sembuh dengan persentase kesembuhan sebesar 97,34 persen. Jika dibandingkan dengan rata-rata dunia, persentase kesembuhan Indonesia masih bertahan sekitar 3 persen di atas rata-rata duunia.

Sementara berdasarkan indikator kematian, persentase maupun jumlah kematian di Indonesia cenderung tetap dibandingkan pekan sebelumnya yaitu 2,59 persen. Sementara jumlah orang meninggal rata-rata 3 bulan terakhir mengalami penurunan dan saat ini rata-rata di angka 13 kasus, yang juga lebih baik dari rata-rata dunia.

Berdasarkan pengalaman selama dua tahun pandemi, gelombang infeksi Covid-19 datang setelah momentum naiknya mobilitas masyarakat. Namun yang terjadi sekarang, angka-angka statistik Covid-19 melandai saat mobilitas warga meningkat termasuk pada periode mudik Lebaran tahun ini. Pada masa menjelang dan selama libur Lebaran, satgas mencatat terjadi peningkatan mobilitas yang sangat tinggi di sektor retail (pasar, pusat perbelanjaan dll) dan rekreasi, namun ternyata hal itu kemudian tak memicu peningkatan kasus Covid-19. 

Satu lagi indikator yang membuat pemerintah pede melonggarkan pembatasan aktivitas sosial adalah hasil sero survei yang menunjukkan tingginya tingkat imunitas di kalangan masyarakat. Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jika hasil survei pada Desember 2021 menghasilkan angka 93 persen masyarakat Jawa dan Bali telah terbentuk antibodi yang berasal dari infeksi atau vaksinasi, hasil survei Maret 2022 mengalami peningkatan menjadi 99,2 persen.

Sangat tingginya angka imunitas masyarakat Indonesia menjadi penyebab mengapa tingkat penularan varian Omicron yang dikenal sangat mudah menular tidak terlalu berpengaruh. Kondisi ini berbeda dengan yang terjadi di negara lain, semisal Amerika Serikat atau China di mana Omicron menjadi pemicu kembali melonjaknya kasus Covid-19 lantaran angka antibodi di dua negara itu belum tinggi seperti di Tanah Air.

Pada Maret 2022 lalu, Kemenkes mengungkapkan tiga skenario transisi Indonesia menuju endemi. Skenario terbaik,  muncul varian Corona yang lebih ringan (tingkat transmisi dan risiko keparahan rendah) namun proteksi dari vaksin dapat dipertahankan dalam level yang tinggi tanpa perlu ada perubahan dari program atau jenis vaksinasi yang ada. Skenario kedua atau dasar, berlanjutnya penurunan tingkat penularan dan keparahan dibarengi munculnya beberapa gelombang kecil infeksi sebagai hasil adanya kelompok rentan (penurunan efektivitas vaksin dan sebagiannya) atau kemungkinan seasonal pattern. Adapun, skenario terburuknya, muncul varian baru yang lebih tinggi penularan dan risiko keparahannya yang direspons dengan penurunan efektivitas vaksin yang signifikan seiring waktu (wanning immunity).

Jika melihat indikator-indikator yang sudah saya jabarkan di atas, Indonesia saat ini sepertinya berada pada skenario pertama. Di tengah dominannya penularan Omicron, tingkat infeksi dan keparahannya rendah lantaran tingginya tingkat imunitas masyarakat baik secara alami atau proteksi dari vaksin. Semoga, kondisi ini dapat terus kita pertahankan sampai nanti akhirnya Presiden Jokowi mencabut status pandemi dan kita dapat menjalani hidup normal kembali. Aamiin. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile