Ahad 22 May 2022 12:09 WIB

Di Tengah Dominasi Omicron, Masih Perlukah Tes Covid-19 Massal Berulang?

WHO mendesak tes Covid-19 pada semua kasus yang dicurigai. .

Red: Reiny Dwinanda
...
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Petugas kesehatan menunggu calon penumpang yang akan melakukan tes covid-19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Rabu (18/5/2022). Manfaat pengujian massal berulang dalam hal pengendalian infeksi kini dipertanyakan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi sebagian orang, menjalani tes Covid-19 telah menjadi hal yang rutin. Sebagian ada juga yang merasa itu sebagai sesuatu yang mengganggu.

Di sisi lain, seiring waktu, pejabat kesehatan di beberapa negara mulai mempertanyakan manfaat pengujian massal berulang kali dalam hal pengendalian infeksi, terutama mengingat biayanya yang mencapai miliaran. Jepang menghindari pengujian skala besar namun mengatasi pandemi dengan relatif baik, berdasarkan tingkat infeksi dan kematian.

Baca Juga

Negara-negara lain, termasuk Inggris dan Spanyol, juga telah mengurangi pengujian. Namun, pengujian berulang di seluruh kota tetap menjadi bagian utama dari rencana "nol-Covid" di China.

"Kita perlu belajar, dan tidak ada yang melakukannya dengan sempurna," kata pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dale Fisher seperti dikutip dari Medical Daily, Ahad (22/5/2022).

WHO mendesak negara-negara untuk melakukan pengujian pada semua kasus yang dicurigai setelah virus corona pertama kali terindentifikasi. Pengawasan global membantu para ilmuwan memahami risiko penyakit parah atau kematian serta risiko penularan.

Kini, menurut para ahli kesehatan, dengan dominasi varian omicron yang dikatakan menyebabkan gejala relatif lebih ringan dan ketersediaan vaksin serta perawatan yang lebih efektif, pemerintah harus mempertimbangkan kebijakan yang lebih strategis, seperti pengambilan sampel populasi. Sebenarnya, WHO tidak pernah merekomendasikan skrining massal individu tanpa gejala, seperti yang saat ini terjadi di China karena masalah biaya dan kurangnya data tentang keefektifannya.

Satu studi di Denmark yang diterbitkan tahun lalu menyimpulkan, program pengujian dan isolasi dari kasus yang dikonfirmasi membantu mengurangi penularan hingga 25 persen. Tetapi, pakar kesehatan mempertanyakan perkiraan tersebut.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement