Saturday, 26 Zulqaidah 1443 / 25 June 2022

Saturday, 26 Zulqaidah 1443 / 25 June 2022

26 Zulqaidah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Cara Dokter Anak Menghadapi Ibu Milenial yang Mudah Khawatir

Senin 23 May 2022 21:05 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Fuji Pratiwi

Orangtua milenial (ilustrasi). Orangtua mileni lebih membutuhkan semangat ketimbang ditakut-takuti.

Orangtua milenial (ilustrasi). Orangtua mileni lebih membutuhkan semangat ketimbang ditakut-takuti.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Beri orang tua milenial pujian agar mereka bersemangat mempelakukan anak lebih baik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Informasi semakin beragam, terkadang justru membuat pikiran semakin penuh. Alhasil menimbulkan kekhawatiran berlebih, utamanya panduan mengenai dunia parenting. Apalagi ibu-ibu yang mudah khawatir ini adalah milenial.

Karakter ibu milenial ini memang unik, ketika bersemangat mengurus anak mereka akan sangat antusias sekali. Lalu ketika suatu hari ada sedikit masalah pada anak, mereka akan sangat ketakutan dan khawatir berlebihan.

Baca Juga

"Sama orang tua milenial saat ini jangan menakut-nakuti, justru kita beri semangat. Setiap mereka datang, beri pujian, itu memberi mereka semangat untuk memperlakukan anak lebih baik lagi," ucap Dokter Spesialis Anak, Dr dr Dian Pratamastuti, dalam Simposium Nasional bertajuk "Membaca Fenomena Speech Delay: Pendekatan Multi Pihak".

Itu sebabnya, Dr Dian berharap semua dokter bisa lebih aktif lagi dalam hal ikut memantau perkembangan anak-anak para orang tua yang datang pada mereka. Karena jika sesuatu terjadi pada anak, tidak bisa sepenuhnya menyalahkan orang tua.

Karena faktanya, masih banyak ditemukan para dokter yang lebih mementingkan kuantitas pasiennya, artinya yang penting pasien banyak. Misalnya ada juga dokter yang tidak menimbang anak saat kunjungan untuk vaksin. Anak datang, lalu vaksin, dan justru malah mengatakan "Ada pertanyaan?".

Di situlah kadang orang tua pasti kebingungan ingin menanyakan apa. "Makanya kita sebagai dokter anak juga harus aktif, sebagai dokter umum juga. Karena di sini kita pilar pertama yang harus memantau betul-betul pertumbuhan dan perkembangan anak-anak Indonesia," ujar dokter langganan Chef Arnold itu.

Para orang tua khususnya yang masuk dalam kategori milenial, mereka baru sadar ada masalah ketika dokternya yang memberi penjelasan dulu. Mereka juga tidak semuanya mau belajar dan berjuang untuk anak-anak mereka. Ia mencontohkan hal mendasar seperti ASI.

Menurut dia, pemberian ASI oleh ibu Indonesia ini ternyata terus menurun. Banyak ibu yang mengandalkan susu formula. Pengorbanan ibu untuk memberikan ASI secara penuh sudah mulai rendah karena mereka tidak mau capek dan tidak mau repot.

Dr Dian menginginkan semua dokter harus benar-benar memastikan bahwa para orang tua ini sudah teredukasi dengan baik. Seorang dokter harus terus memberikan masukan, pelajaran, hingga nasihat apa yang harus dilakukan para orang tua.

Kasus yang sedang sangat tersorot saat ini adalah speech delay, diakibatkan pandemi yang membuat anak tidak bersosialisasi dan orang tua memilih jalan pintas dengan memberi gadget. Lagi-lagi ini dikarenakan kebanyakan orang tua milenial memilih untuk membuat anak diam dengan gadget, daripada mengalihkan perhatian anak dengan hal lain.

Jika sudah terlambat bicara maka semakin terus terlambat dan terlambat dalam hal apapun. "Ingat, golden period itu masa perkembangan emas otak hanya di 1.000 hari pertama, dari janin dalam kandungan sampai usia 2 tahun. Kalau anak ini speech delay bahkan melebihi usia 2 tahun, menurut penelitian, itu akan berpengaruh pada kecerdasan otaknya nanti," ujar Dr Dian.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile