Saturday, 26 Zulqaidah 1443 / 25 June 2022

Saturday, 26 Zulqaidah 1443 / 25 June 2022

26 Zulqaidah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Hikmah Puasa pada Ayyamul Bidh

Rabu 25 May 2022 02:20 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Berpuasa

Ilustrasi Berpuasa

Foto: Prayogi/Republika
Menjalani puasa ayyamul bidh juga mendatangkan hikmah tersendiri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu puasa sunnah yang cukup populer di kalangan umat Islam adalah puasa ayyamul bidh. Yakni puasa yang dilakukan pada tanggal 13, 14, 15 pada kalender Hijriyah dan hanya dikecualikan pada hari tasyrik yang ada di bulan Dzulhijjah. 

Menjalani puasa ayyamul bidh juga mendatangkan hikmah tersendiri. Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, ia berkata, "Awshaani khaliliy SAW bitsalatsin shiyaami tsalatsati ayyamin min kulli syahrin wa rak'atay ad-duhaa wa an utira qabla an anaama,". 

Baca Juga

Yang artinya, "Kekasihku (Nabi SAW) berpesan kepadaku tiga perkara, (yakni) puasa tiga hari di setiap bulan, dua rakaat dhuhah, dan shalat witir sebelum tidur,". 

Adapun yang dimaksud Al-Bidh adalah malam di mana bulan terlihat bercahaya terang mulai awal malam sampai akhir malam. Hadis tersebut menjadi dalil bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan sahabat melakukan puasa pada hari-hari Al-Bidh dengan makna perintah bersifat sunnah, bukan wajib. 

Karena Rasulullah SAW ketika berhalangan, maka beliau tidak berpuasa pada hari-hari Al-Bidh. Hal itulah yang menjadi dalil atas perintah di sini tidak wajib. Hukum sunnahnya puasa ayyamul bidh juga menjadi kesepakatan para ulama. 

Dijelaskan pula bahwa disebut Al-Bidh (terang) karena pada hari-hari tersebut terlihat terang oleh cahaya bulan purnama. Sebab malam-malam itu menyerupai siang yang kuat dan sempurnanya cahaya bulan. Di sinilah istilahnya bukan hari, karena hari meliputi terangnya siang dan gelapnya malam. 

Ibnu Sina berpendapat bahwa umat Islam sesungguhnya diperintahkan melakukan bekam bukan pada awal bulan qamariyah. Sebab percampuran belum lagi bangkit dan bergerak. Bukan pula pada akhir bulan, karena ia berkurang, namun pada pertengahan bulan. Sekiranya percampuran itu terjadi dan sampai pada puncaknya serta cahaya bulan mengalami purnama. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 

BERITA TERKAIT

 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile