Monday, 10 Muharram 1444 / 08 August 2022

Monday, 10 Muharram 1444 / 08 August 2022

10 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Tak Sempat Puasa Syawal, Bolehkah Diganti pada Bulan Lain?

Kamis 26 May 2022 23:34 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi Puasa. Ganjaran puasa Syawal yang dilakukan pada bulan lain tak sama

Ilustrasi Puasa. Ganjaran puasa Syawal yang dilakukan pada bulan lain tak sama

Foto: Republika/Mardiah
Ganjaran puasa Syawal yang dilakukan pada bulan lain tak sama

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Puasa Syawal pada dasarnya dilakukan pada hari-hari Syawal. Kendati demikian, mungkin sebagian orang tidak sempat melakukan puasa Syawal pada waktunya.

Apabila tidak sempat melakukan puasa sunnah enam hari ini di bulan Syawal, apakah boleh diqadha pada Dzulqadah atau bulan lainnya setelah Syawal?

Baca Juga

Dikutip dari buku Fikih Bulan Syawal oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ulama Syafiiyah menganggap masih dibolehkan bagi yang luput dari puasa enam hari Syawal, boleh diqadha pada Dzulqadah. Namun, pahalanya di bawah dari pahala jika dilakukan pada Syawal.

Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah menyatakan dalam Tuhfah Al-Muhtaj, “Siapa yang lakukan puasa Ramadhan lalu mengikutkan dengan puasa enam hari pada Syawal, maka seperti puasa setahun dengan pahala puasa wajib (tanpa dilipatgandakan). 

Namun, siapa yang melakukan puasa enam hari di bulan selain Syawal, maka pahalanya tidak seperti seperti puasa setahun, tetapi setara dengan ganjaran puasa sunnah.” 

Dinukilkan dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, dari Abu Ayyub Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضانَ ثُمَّ أَتَبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كانَ كصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa yang melakukan puasa Ramadhan lantas ia ikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu seperti berpuasa setahun penuh.” (HR Muslim, no 1164).

Mengenai cara puasa Syawal, Imam Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan, “Yang lebih utama, puasa Syawal dilakukan muttashil, langsung setelah sehari setelah shalat ied (dua Syawal). Puasa tersebut juga afdhalnya dilakukan mutatabi’ah, yaitu berturut-turut. Walaupun jika puasa tersebut dilakukan tidak dari dua Syawal (tidak muttashil), juga tidak dilakukan berturut-turut (tidak mutatabi’ah), tetap dapat ganjaran puasa setahun. Mengapa sampai mengerjakan puasa Syawal dengan segera setelah satu Syawal lebih utama? Imam Ar-Ramli rahimahullah mengatakan, “Mengerjakan puasa Syawal berturut-turut sehari setelah Idulfitri lebih utama dikarenakan: Pertama, lebih segera dalam melakukan ibadah dan kedua, supaya tidak bertemu dengan halangan yang membuat sulit untuk berpuasa.” (Nihayat Al-Muhtaj). Imam Asy-Syirbini rahimahullah dalam Mughni Al-Muhtaj juga menyatakan hal yang sama.     

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile