Banjir Rob Semarang, Peringatan Potensi Bencana Pesisir di Masa Depan

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Fernan Rahadi

Pekerja pelabuhan menggunakan kontainer masuk ke dalam Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (26/5/2022). Aktivitas Pelabuhan Tanjung Emas masih lumpuh imbas banjir rob. Namun, angkutan peti kemas mulai masuk ke pelabuhan meski masih sedikit. Sementara itu, air rob mulai surut pascaperbaikan tanggul yang jebol.
Pekerja pelabuhan menggunakan kontainer masuk ke dalam Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (26/5/2022). Aktivitas Pelabuhan Tanjung Emas masih lumpuh imbas banjir rob. Namun, angkutan peti kemas mulai masuk ke pelabuhan meski masih sedikit. Sementara itu, air rob mulai surut pascaperbaikan tanggul yang jebol. | Foto: Wihdan Hidayat / Republika

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Dengan adanya peristiwa banjir rob yang terjadi di pesisir utara Kota Semarang, khususnya wilayah Kecamatan Semarang Utara, penting bagi para pemangku kebijakan untuk menyiapkan upaya penanganan kawasan pesisir yang lebih komprehensif.

Sehingga peristiwa limpasan air laut yang begitu kuat dan berdampak terganggu kegiatan perekonomian masyarakat dan terganggunya kegiatan usaha yang ada di kawasan tersebut dapat dihindari dan tidak terulang kembali di kemudian hari.

Direktur Amrta Institute for Water Literacy, Nila Ardhianie mengatakan, beberapa faktor berkontribusi pada terjadinya banjir besar tersebut. Sehingga fokus penanganan pada tanggul penahan air laut yang jebol dapat membuat pemangku kebijakan lengah dalam penanganan bencana ke depan.

Menurut Nila, keempat faktor yang terkait dengan besarnya dampak banjir rob yang terjadi di kawasan Tanjung Emas dan sebagian kawasan Kecamatan Semarang Utara tersebut mesti ditangani dengan baik oleh pemangku kebijakan.

Yakni meliputi sistem peringatan dini yang tidak optimal, kualitas kontruksi dan pemeliharaan fisik tanggul, penurunan tanah dan hal yang terkait dengan air laut baik ketinggian air laut, kecepatan gelombang dan lainnya. "Khusus untuk faktor keempat merupakan kompetensi dan kewenangan dari badan-badan teknis terkait," jelasnya, di Semarang, Kamis (26/5/2022) malam.

Terkait sistem peringatan dini, katanya, sebenarnya sudah ada dan berjalan. BMKG terus melakukan prediksi cuaca dan membuat peringatan yang disosialisasikan kepada publik.

Pertanyaannya, apakah sosialisasi itu berjalan efektif, semua pihak yang potensial terkena dampak sudah memperoleh informasi? Kalau semua pihak sudah memperoleh, apakah mereka yang terdampak mengabaikan peringatan tersebut atau ada hal lain yang terjadi.

Namun dari video yang beredar luas  sesaat setelah tanggul jebol yang menggambarkan para pekerja berlarian dari tempat kerja mereka dan banyak yang menuntun sepeda motor yang terendam total air laut menunjukkan peringatan tersebut tidak berjalan optimal.

Di beberapa negara, sistem peringatan dini yang dipatuhi dengan baik membawa manfaat besar. "Saat penduduk yang potensial terkena dampak mendapat peringatan, mereka bekerja dari rumah untuk menghindari kerugian yang lebih besar," ungkapnya.

Untuk faktor tanggul, kata Nila,  terkait dengan kualitas material dan metode yang digunakan saat konstruksi. Dengan kata lain, pada saat dibuat tanggul didesain untuk mampu menahan gelombang laut setinggi apa, kecepatan berapa dan hal- hal teknis lainnya.

Menurutnya, informasi tersebut sangat penting diikutsertakan dalam setiap pengambilan keputusan. Hal ini juga terkait dengan pemeliharaan tanggul yang harus sesuai dengan desain dan konstruksi awal dan perubahan lingkungan yang terjadi. 

Termasuk apakah dilakukan pemeliharaan berkala yang sesuai atau tidak. "Sebabbiasanya  kerusakan besar pasti akan didahului indikasi berupa kerusakan- kerusakan kecil terlebih dahulu," katanya.

Sedangkan faktor penurunan tanah adalah fenomena yang terjadi di berbagai kota pesisir di dunia. Salah satu hasil penelitian terbaru tahun 2022 dari Pei-Chin Wu, Meng (Matt) Wei dan Steven D’Hondt dengan judul 'Subsidence in Coastal Cities Throughout The World observed by InSAR' cukup mencengangkan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa Semarang adalah kota dengan laju penurunan tanah tercepat kedua diantara 99 kota tepi pantai yang diteliti. Urutannya adalah Tianjin, Semarang dan Jakarta dengan laju maksimal 30 mm per tahun LOS.

Data yang digunakan penelitian ini adalah PS Interferometric Synthetic Aperture Radar method and Sentinel-1. Penurunan tanah menjadi faktor penting saat banjir terjadi (baik banjir akibat limpasan air laut (rob) maupun banjir akibat air hujan).

Tanah yang sudah turun meningkatkan daya tampung air di daratan sehingga membuat genangan menjadi makin dalam dan makin sulit dialirkan ke laut. Pada saat air pasang kondisi menjadi lebih parah karena air akan menggenang lebih lama.

Penurunan tanah adalah turunnya permukaan tanah sebagai respons terhadap peristiwa geologi atau penyebab yang terkait aktivitas manusia. Untuk Semarang, beberapa hal yang terkait dengan penurunan tanah adalah ekstraksi air tanah berlebihan.

Pembebanan bangunan dan struktur serta  kompaksi atau konsolidasi sedimen aluvial muda terutama di kawasan Semarang bawah juga turut andil. "Termasuk peristiwa tektonik di bawah Semarang juga dapat menyebabkan penurunan tanah," kata mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro ini.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Terkait


Banjir Rob Landa Semarang-Demak, Walhi: Hentikan Relokasi Mangrove untuk Tol

Relawan Ganjar Bantu Korban Banjir di Semarang

Rob Mulai Mereda, Pantai Karangsong Bersiap Buka Kembali

Pelabuhan Tanjung Emas Masih Lumpuh Akibat Diterjang Banjir Rob

Rob Mulai Mereda, Pantai Karangsong Bersiap Buka Kembali

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark