Jumat 27 May 2022 19:10 WIB

Korut Uji Air Hingga Sampah Rumah Tangga untuk Deteksi Covid-19

Korut uji sungai, udara dan air, limbah rumah tangga dan sampah demi deteksi Covid-19.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
...
Foto: AP/KCNA via KNS
Dalam foto yang disediakan oleh pemerintah Korea Utara ini, seorang dokter mengunjungi sebuah keluarga selama kegiatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang langkah-langkah pencegahan COVID-19, di Pyongyang, Korea Utara Selasa, 17 Mei 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Pejabat kesehatan Korea Utara menguji sungai, danau, udara dan air, limbah rumah tangga dan sampah sebagai upaya untuk melawan wabah virus Corona. Kantor berita pemerintah, KCNA  mengatakan, kantor anti-virus mengumpulkan sampel dari banyak sumber untuk memeriksa apakah daerah telah terinfeksi Covid-19.

"Sektor anti-epidemi darurat di semua tingkatan mengutamakan pengujian spesimen yang dikumpulkan di sungai dan danau, sambil mendisinfeksi ratusan ribu meter kubik limbah dan ribuan ton sampah setiap hari, serta memeriksa dan menganalisis sampel," kata laporan KCNA.  

Tahun lalu, Korea Utara telah mengembangkan peralatan tes reaksi rantai polimerase (PCR) sendiri. Tetapi negara tersebut tidak pernah mengkonfirmasi berapa banyak orang yang dites positif Covid-19. Mereka justru melaporkan jumlah warga yang mengalami gejala demam.

Sebuah video yang diunggah KCNA menunjukkan sekelompok pejabat mengenakan pakaian pelindung diri dan masker medis, sambil membawa kotak dengan tulisam yang mengatakan "pembawa spesimen" atau "bakteri, penguji virus." Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen informasi yang terkandung dalam video tersebut.

"Pejabat mengumpulkan sampel dari orang-orang yang menunjukkan demam, dan menguji minuman yang diproduksi di pabrik air di Pyongyang untuk memastikan mereka bersih dan aman," ujar Wakil Kepala Pusat Kebersihan dan Anti-epidemi Kota Pyongyang, Jo Chol-ung.

Sejak pandemi virus korona melanda dunia pada 2020, Korea Utara kerap mengklaim bahwa negaranya bebas Covis-19. Beberapa waktu lalu, Korea Utara memcatat kasus pertama Covid-19 dan gejala demam serentak. Pemerintah Korea Utara menyatakan keadaan darurat dan memberlakukan penguncian nasional bulan ini.

Wabah Covid-19 di Korea Utara memicu kekhawatiran tentang kurangnya vaksin, pasokan medis, dan kekurangan makanan. Media pemerintah mengatakan, pihak berwenang sedang meningkatkan pengujian dan desinfeksi di seluruh negeri. Pemerintah Korea Utara mengklaim bahwa wabah Covid-19 telah stabil, termasuk tanda-tanda bahwa gelombang demam mereda dan jumlah kematian yang relatif rendah.  

KCNA yang mengutip data dari markas besar pencegahan epidemi darurat negara melaporkan, sekitar 100.460  orang menunjukkan gejala demam pada Kamis (26/5) malam. Jumlah ini menurun dibandingkan dengan hampir 400 orang sekitar 10 hari yang lalu. Jumlah total pasien demam sejak April naik menjadi 3.270.850, dan jumlah kematian menjadi 69.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement