Keluarga Berisiko Stunting di DIY Terkait Faktor Kemiskinan

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo. | Foto: Republika/Thoudy Badai

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebut keluarga yang berisiko stunting di DIY cukup besar. Setidaknya, keluarga yang berisiko stunting ini hampir dua kali lipat dari angka stunting.

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengatakan, angka stunting di DIY saat ini sebesar 17 persen. Artinya, keluarga yang berisiko stunting sendiri sekitar 30 persen.

"Sekitar 30 persen lebih keluarga di DIY ini berisiko stunting. Tapi, keluarga berisiko stunting bukan berarti keluarga yang punya anak stunting," kata Hasto usai Gebyar Pelayanan KB MOW dalam Rangkaian Harganas ke-29 dan TMMD di RSKIA Sadewa, Sleman, DIY.

Hasto menyebut, keluarga yang berisiko stunting di DIY beririsan dengan kemiskinan ekstrem. Meskipun keluarga berisiko stunting belum tentu memiliki anak yang stunting, namun hal ini harus menjadi perhatian dalam mencegah stunting.

"Misalnya dia miskin tapi pasangan usia subur yang baru mau hamil, jambannya tidak bagus, airnya tidak bagus, rumahnya kumuh, ini yang harus diperhatikan. Kalau tidak, begitu nanti hamil anaknya bisa stunting," ujar Hasto.

Meskipun begitu, Hasto menyebut, program penanganan stunting maupun keluarga berencana (KB) di DIY menjadi percontohan secara nasional. DIY sendiri, katanya, merupakan daerah dengan tingkat stunting terendah nomor tiga di Indonesia.

"DIY juara tiga nasional karena stunting DIY itu sudah di bawah 20 persen. Terendah pertama Bali, terendah kedua DKI Jakarta dan terendah ketiga DIY," jelas Hasto.

Ia menegaskan, kunci untuk menurunkan stunting yakni dengan tidak memiliki terlalu banyak anak. Selain itu, jarak umur antara anak juga tidak terlalu dekat yakni tidak kurang dari tiga tahun.

"Kunci menurunkan stunting asalkan jumlah anak jangan terlalu banyak dan jaraknya jangan kurang dari tiga tahun. Kalau kurang jaraknya cenderung stunting dan autism," tambahnya.

Untuk itu, program KB juga menjadi penting dalam pencegahan stunting. Tanpa program KB yang baik, katanya, maka pencegahan stunting juga sulit untuk dilakukan.

"KB penting sekali mencegah stunting, tanpa KB yang baik, stunting itu agak sulit (dicegah)," kata Hasto.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Kejar Target Penurunan Stunting, BKKBN Gelar Pelayanan KB dan Pentas Wayang

Tim Pendamping Keluarga, Ujung Tombak Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia

Calon Pengantin Jadi Sasaran Utama Tim Pendamping Keluarga

Wapres: Angka Stunting Harus Turun Minimal Tiga Persen Tahun ini

BKKBN: Angka Kesuburan Total 2021 Turun

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

[email protected]

Ikuti

× Image
Light Dark