Thursday, 20 Muharram 1444 / 18 August 2022

Thursday, 20 Muharram 1444 / 18 August 2022

 

20 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Mencari Ruh Pancasila dalam Berdemokrasi

Selasa 31 May 2022 13:38 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Garuda Pancasila.

Garuda Pancasila.

Foto: Antara/Nyoman Budhiana
Demokrasi Indonesia belum sepenuhnya menemukan praktik yang diidealisasikan Pancasila

Oleh : Cecep Darmawan, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pendidikan Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, Banyak orang menyenangi demokrasi. Tapi jangan paksa semua orang percaya terhadap apa yang dihasilkan dalam praktika demokrasi. Kesejahteraan masih milik kaum elite. Demokrasi memang mudah diucapkan, namun sulit dirasakan. Demokrasi yang membuahkan kesejahteraan rakyat masih jauh panggang dari api.

 

Menyikap demokrasi, Plato pernah menentangnya. Ia berkeyakinan meskipun demokrasi itu dapat diciptakan tetapi tidak selalu diinginkan.

Demokrasi seakan masih bersarang di alam ide. Jika tidak dapat diwujudkan maka demokrasi hanyalah sebuah utopia belaka. Meski begitu, sebagian orang masih bersimpati kepada demokrasi dan ingin menjalankan sesuai cita-cita dan keinginannya. Kelompok kebanyakan selalu mempertahankan demokrasi, dengan dalih demokrasi merupakan pilihan yang cocok dalam segala keadaan.

Garansi Demokrasi

Demokrasi  belum tentu memberikan garansi apa pun bagi rakyatnya. United States Information Agency atau USIA (1991), menuliskan, “democracy itself guarantees nothing. It offers instead the  opportunity to succed as well as the risk of failure”.  

Merujuk pada pemahaman USIA, demokrasi memang tidak pernah menjamin apa pun dan demokrasi sekedar menawarkan kesempatan untuk berusaha mencapai keberhasilan, atau bisa jadi dalam kenyataannya beresiko gagal. Artinya, demokrasi tidak menjamin apa pun, semuanya tergantung kepada elite atau aktor yang menjalankan demokrasi, sistem politik yang dibangun, komitmen yang mengedepankan prinsip kesejahteraan, dan budaya masyarakat yang mendukungnya.

Sejarah demokrasi di Athena sekali pun, belum cukup memuaskan rakyatnya untuk sejahtera. Praktik pemerintahan yang demokratis di Athena tidak serta merta membawa perubahan iklim demokrasi yang inklusif.

Sejarah mencatat Socrates dihukum mati pemerintahan yang waktu itu memproklamirkan diri sebagai pemerintah demokratis. Socrates dituduh sebagai provokator yang meracuni pikiran kaum muda dan dianggap akan membahayakan stabilitas negara.

Karena itulah murid setia Socrates, Plato tidak menempatkan demokrasi sebagai bentuk pemerintahan terbaik. Sebab menurut Plato demokrasi memungkinkan orang-orang jahat seperti gerombolan, preman, dan para pembegal demokrasi turut serta mengurus pemerintahan.

Meskipun begitu, pada akhirnya Plato juga menyetujui demokrasi dengan sejumlah catatan kritis. Plato menempatkan demokrasi sebagai bentuk pemerintahan yang terbaik dari yang terburuk, sekaligus demokrasi ditempatkan di posisi yang terakhir diantara bentuk pemerintahan yang terbaik. Plato menginginkan negara itu dipimpin oleh seorang filsuf raja yang memiliki pengetahuan yang luas, mencintai segala kebajikan, penuh kearifan, bijaksana, sederhana, sekaligus jadi rujukan model bagi rakyatnya.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile