'Pancasila Telah Terbukti Satukan Bangsa Indonesia'

Red: Fernan Rahadi

Ilustrasi Pancasila
Ilustrasi Pancasila | Foto: Republika/Mardiah

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Pancasila selama ini dinilai telah terbukti mampu dalam menyatukan bangsa Indonesia dan menghalau berbagai macam tantangan yang sebelumnya dapat memecah belah bangsa. Oleh karena itu, eksistensi Pancasila sebagai dasar negara yang dirumuskan para pendiri bangsa harus terus digaungkan.

"Pancasila ini adalah dasar pemersatu bangsa. Untungnya kita memiliki Pancasila yang telah dirumuskan oleh para founding fathers bangsa kita. Dan itu sudah teruji mulai dari orde lama ada berbagai macam pemberontakan yang puncaknya G30S (PKI), lalu zaman Orde Baru, hingga saat ini bangsa ini masih bisa bersatu karena Pancasila itu,"  ungkap Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol R Ahmad Nurwahid saat menjadi narasumber dalam acara Diskusi Publik 2022 bertema 'Melawan Kelompok Radikal dalam Dinamika Politik Indonesia Menjelang Pemilu 2024' yang diselenggarakan Yayasan Tri Bhakti Pratista di Advocafe, Purwokerto, Jumat (3/6/2022).

Nurwahid mengatakan, politisasi agama atau menggunakan agama dalam ajang politik adalah salah satu pemicu utama munculnya radikalisme dan terorisme.  "Radikalisme dan terorisme itu akar masalahnya adalah ideologi. Pemicu utamanya adalah politisasi agama, sehingga sangat relevan dengan kegiatan seperti ini. Kita melakukan ikrar bersama, menandatangani pakta integritas supaya menghadapi Pemilu 2024 ke depan, tidak ada lagi yang namanya politisasi agama," ujarnya menambahkan.

Karena menurutnya, apa pun argumennya atau  alasannya, agama adalah firman Tuhan. Sehingga harus menjadi sumber inspirasi untuk kemanfaatan semua pihak. "Jadi politisasi agama adalah pemicu utama radikalisme dan terorisme. Dan itu harus ditiadakan," ungkap alumni Akpol tahun 1989 ini menegaskan.

Lebih lanjut Nurwahid menjelaskan, Indonesia sebagai negara yang sangat majemuk yang tentunya juga memiliki potensi yang sangat besar untuk terjadinya konflik. Sehingga masyarakat harus berhati-hati dan tak gampang terpolitisasi.

"Negara kita punya potensial konflik yang paling besar di dunia. Di Arab, hanya beberapa etnis dan suku bangsa, pecah jadi berbagai negara. Bangsa Indonesia? Ada 1300 lebih suku bangsa, tersebar di 17 ribu lebih pulau-pulau, agamanya ada enam, alirannya juga begitu banyak dan ini bisa disatukan dalam NKRI. Bayangkan betapa besarnya potensial konfliknya, harus hati-hati dan dijaga," ungkapnya.

Lebih daripada itu mantan Kapolres Gianyar ini pun mengungkapkan masyarakat harus bangkit melawan radikalisme dan politisasi agama. Karena menurutnya, inilah salah satu penyebab-penyebab terjadinya konflik yang ada, tak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id

Terkait


Dari Megawati Hingga Tito Karnavian, akan Jadi Penguji Disertasi Hasto Kristiyanto

Dalam Diskusi KBRI Tunis, Cendekiawan Tunisa Puji Pancasila     

Polisi: Pengikut NII di Kabupaten Bandung 30 Orang Terus Diawasi

KSAD: Pancasila Jaga Keutuhan Persatuan Indonesia

Pendekatan Seni dan Budaya Dinilai Efektif Tangkal Paham Terorisme

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark