Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

11 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Kasus Terus Naik, Penyebabnya Dipantau 2-4 Pekan ke Depan

Rabu 15 Jun 2022 10:51 WIB

Red: Indira Rezkisari

 Sejak temuan subvarian baru pemerintah memang sudah memprediksi akan terjadi kenaikan kasus Covid-19. Warga diminta melakukan booster vaksin dan terus disiplin protokol kesehatan.

Sejak temuan subvarian baru pemerintah memang sudah memprediksi akan terjadi kenaikan kasus Covid-19. Warga diminta melakukan booster vaksin dan terus disiplin protokol kesehatan.

Foto: EPA-EFE/Bagus Indahono
Hari ini penambahan kasus Covid-19 capai 1.242 kasus.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dian Fath Risalah, Rr Laeny Sulistyawati

Penambahan kasus Covid-19 pada Rabu (15/6/200) menembus angka 1.242 kasus. Artinya sudah dua hari terakhir penambahan kasus Covid-19 tercatat ekstra karena sebelumnya kasus harian ada di kisaran 500.

Baca Juga

Pada Selasa (14/6), penambahan kasus Covid-19 di Indonesia sebanyak 930 kasus baru. Sementara itu, jumlah yang sembuh dari kasus Covid-19 pada hari ini bertambah 525 orang sehingga menjadi sebanyak 5.900.574 orang.

Sedangkan jumlah orang yang meninggal akibat Covid-19 di Indonesia 8 bertambah 10 orang menjadi sebanyak 156.670 orang. Jumlah kasus aktif Covid-19 di Indonesia pada hari ini mencapai 6.007 kasus, bertambah 709 dari sehari sebelumnya.

Kementerian Kesehatan menganalisa, penyebab lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia pada Mei 2022 ini adalah virus corona varian Omicron BA.4 dan BA.5. Infeksi virus corona varian Omicron BA.4 dan BA.5 sudah terdeteksi di sejumlah wilayah sejak awal Mei 2022.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menjelaskan, kasus mingguan meningkat dalam beberapa minggu terakhir. Dibandingkan akhir Mei lalu sebanyak 1.800 kasus, pada minggu lalu naik menjadi 3.600 kasus. Kasus aktif juga meningkat. Jika akhir Mei lalu angkanya berkisar 2.900 kasus, maka per 13 Juni 2022 berkisar 4.900 kasus.

"Kondisi saat ini harus kita upayakan bersama-sama untuk menekan penularan semaksimal mungkin. Perlu menjadi perhatian, bahwa Indonesia telah berhasil mempertahankan penurunan kasus harian dan mingguan tetap rendah selama 2 bulan berturut-turut," kata Wiku, dikutip Rabu (15/6/2022).

Ada beberapa potensi kenaikan kasus yang dapat diidentifikasi. Seperti mobilitas penduduk yang terus naik jika dibandingkan sepanjang tahun 2021. Juga, seiring melandainya kasus, berpotensi meningkatkan interaksi antar masyarakat dari satu tempat ke tempat lainnya.

Lalu, kembali normalnya aktivitas masyarakat di tempat-tempat publik, serta kegiatan-kegiatan berskala besar yang dihadiri banyak orang, berpotensi meningkatkan interaksi antar masyarakat sehingga meningkatkan potensi penularan. Penyebab lain, melandainya kasus mempengaruhi kedisiplinan protokol kesehatan masyarakat. Seperti di tempat-tempat umum dan di lingkungan pemukiman yang tidak lagi sedisiplin saat kasus meningkat.

Di samping itu, mutasi virus dengan varian baru BA.4 dan BA.5 sudah masuk Indonesia. Varian ini pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 6 Juni 2022, dan kini 8 kasus telah teridentifikasi. Dari karakteristiknya, secara epidemiologi, varian BA.4 teridentifikasi di 61 negara melalui 7.524 sekuens yang telah dilaporkan melalui GISAID. Sekuens terbanyak teridentifikasi di Afrika Selatan, Amerika Serikat, Britania Raya, Denmark dan israel.

Sedangkan varian BA.5 teridentifikasi di 65 negara melalui 10.442 sekuens yang telah dilaporkan melalui GISAID. Sekuens paling banyak teridentifikasi di Amerika Serikat, Portugal, Jerman, Britania Raya dan Afrika Selatan. Transmisibilitas dari varian ini memiliki kemungkinan menyebar lebih cepat, tanpa indikasi menyebabkan kesakitan lebih parah dibandingkan varian Omicron lainnya.

Penyebab kenaikan kasus ini penting diperhatikan selama 2-4 minggu ke depan. Karena perlu waktu untuk melihat dampak dari suatu faktor penyebab terhadap kenaikan kasus. Secara bersamaan, penting juga dilakukan surveilans molekuler epidemiologi, dengan metode yang benar dan sistematis. Agar penyebab kenaikan kasus dan asal kasus yang beredar di masyarakat terdeteksi dengan baik.

Untuk itu, terlepas dari apapun penyebab kenaikan kasus saat ini, pentingnya kembali bergotong royong oleh seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah untuk menekan kasus positif, mulai dari tingkat nasional hingga daerah. Salah satu cara termurah dan termudah adalah dengan kembali menerapkan disiplin protokol kesehatan.

Dengan disiplin protokol kesehatan tidak akan menyebabkan kenaikan kasus, meskipun terjadi mobilitas tinggi dan kembali normalnya aktivitas masyarakat. Hal ini hanya dapat dicapai apabila setiap orang bertanggung jawab disiplin protokol kesehatan dengan baik dan benar. Termasuk penggunaan masker wajib bagi semua orang dan rajin mencuci tangan.

"Prinsip kewaspadaan dan kehati-hatian harus tetap diterapkan dalam kegiatan sehari-hari karena pandemi ini belum selesai. Sewaktu-waktu kita tetap dapat mengalami kenaikan kasus kembali apabila tidak disiplin protokol kesehatan," tegas Wiku.

Sejak temuan subvarian baru pemerintah memang sudah memprediksi akan terjadi kenaikan kasus. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah mewanti-wanti adanya kenaikan kasus hingga puncak di bulan Juli.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile