Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

5 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Apa yang Diinginkan Hacker Saat Meretas Data di Internet?

Kamis 16 Jun 2022 20:10 WIB

Rep: MGROL136/ Red: Dwi Murdaningsih

Hacker (ilustrasi)

Hacker (ilustrasi)

Foto: pixabay
Peretas kian marak terjadi dalam dunia yang serba digital.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peretas kian marak terjadi dalam dunia yang serba digital. Jake Moore, penasihat keamanan siber dan spesialis industri ESET mengatakan maraknya peretasan  menunjukkan bahwa banyak individu tidak mengetahui teknologi keamanan mendasar seperti otentikasi dua faktor.

Ini adalah masalah yang signifikan karena kebanyakan orang semakin mengandalkan perangkat dan akun online untuk mengakses dan menyimpan informasi sensitif, seperti data medis, dokumen keuangan, dan materi kerja. 

Baca Juga

Dilansir dari Slashgear, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan peretasan. Tidak memperbarui laptop dan ponsel cerdas dengan peningkatan keamanan, mengakses jaringan Wi-Fi publik tanpa VPN, dan menggunakan kata sandi yang sama untuk semua akun online adalah semua praktik yang membuat pengguna rentan terhadap peretas.

Apa tujuan hacker?

Apa yang sebenarnya dilakukan peretas dengan data Anda, yaitu menjualnya, mengeksposnya, menahannya untuk tebusan, menambangnya untuk informasi penting seperti nomor kartu kredit, menggunakannya untuk peretasan lain, atau sekadar memamerkannya. 

Beberapa upaya peretasan dimotivasi oleh balas dendam daripada keuntungan finansial. Yang lain membobol sistem atau organisasi yang "tidak dapat ditembus" hanya untuk membual atau membocorkan informasi sebagai balas dendam atas sesuatu.

Disisi lain, sebagian besar peretas mencari uang dengan cepat, dan data yang dicuri dapat mencakup informasi yang berguna. Semuanya sekarang disimpan secara online, mulai dari kredensial hingga kartu kredit hingga nomor jaminan sosial. 

Di dark web, data yang diretas juga dijual dalam jumlah banyak. Menurut F1 Solutions, nomor jaminan sosial dapat dibeli hanya dengan 1 dolar. Kartu kredit atau debit dapat dibeli seharga 50 sen hingga 1 dolar per kartu (biasanya dalam bundel), dan kredensial Paypal dapat dibeli seharga 200 dolar. SIM, paspor digital dan fisik, dan bahkan catatan medis semuanya tersedia untuk dibeli di internet.

Sementara itu, ransomware adalah tren yang berkembang dimana peretas menargetkan usaha kecil dan menengah, menguasai sistem dan data mereka, dan kemudian menawarkan perusahaan opsi untuk memulihkan mesin mereka dengan imbalan pembayaran uang tebusan. 

Mengingat pertumbuhan teknologi blockchain, tidak terduga bahwa kredensial dompet digital dan kredensial situs NFT dicuri pada tingkat yang mengkhawatirkan. Terakhir, data dapat digunakan untuk mencuri identitas, melakukan penipuan, melakukan peretasan tambahan, dan bahkan merusak situs web.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile