Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

15 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Meski Ada Modal Imunitas Lawan Covid-19, Epidemiolog Tetap Tekankan Kejar Booster

Jumat 17 Jun 2022 12:16 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Nora Azizah

Indonesia harus mengejar imunitas dengan vaksinasi dosis lengkap dan booster.

Indonesia harus mengejar imunitas dengan vaksinasi dosis lengkap dan booster.

Foto: ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Indonesia harus mengejar imunitas dengan vaksinasi dosis lengkap dan booster.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengakui Indonesia memiliki modal yang jauh lebih baik untuk menghadapi Covid-19 yaitu imunitas vaksin dua dosis dan dosis penguat (booster). Tetapi modal kekebalan tubuh ini harus terus ditingkatkan, khususnya cakupan vaksin tiga dosis.

"Indonesia harus mengejar imunitas dengan vaksinasi dosis lengkap dan booster, terutama mengejar (cakupan) kelompok rawan atau pada kelompok dewasa yang sudah divaksin dosis primer lebih dari enam bulan," ujar Dicky saat dihubungi Republika, Jumat (17/6/2022).

Baca Juga

Dicky menyebutkan pembaruan data efikasi vaksin Covid-19 dari riset yang dimuat di Nature menunjukkan bahwa untuk merespons subvarian omicron apalagi BA.4 maka booster vaksinasi dengan messenger RNA (mRNA) seperti Pfizer atau Moderna menjadi sangat penting. 

"(Indonesia) harus mengejar cakupan vaksin Covid-19 dosis 3 sampai setidaknya 50 persen di populasi umum dan 70 persen di populasi rawan/berisiko," katanya.

Kendati demikian, Dicky menilai Indonesia kini telah memiliki imunitas lebih baik daripada saat varian delta menyerang beberapa waltu lalu karena cakupan vaksinasi dua dosis yang lebih banyak. Ia juga menilai cakupan booster walaupun masih di bawah 25 persen, setidaknya jauh lebih baik.

Dari sisi pemahaman dan kemampuan dan di lapangan, Dicky juga menilai sudah lebih baik dibandingkan 2021. Artinya literasi pandemi di kalangan pemerintah meningkat.

"Tetapi sebagian pemerintah masih belum paham situasi rawan ini. Bagaimana untuk melakukan pencegahan, deteksi, dan upaya atau perilaku adaptif lainnya," katanya.

Tak hanya itu, ia mengkritisi seringkali otoritas membangun optimisme yang akhirnya tercipta keamanan semu dan membuat masyarakat jadi tidak waspada.  Padahal, Dicky mengingatkan masih ada potensi kerawanan terkait penyebaran Covid-19 khususnya BA.4 dan BA.5.

Ia menegaskan, untuk menghindari penyebaran subvarian ini tak bisa mengandalkan imunitas vaksinasi saja melainkan juga intervensi perubahan perilaku, kesehatan masyarakat menjadi sangat kuat. Semua intervensi ini penting untuk dilakukan. 

"Dalam hal ini kita masih punya pekerjaan rumah. Ini yang tentunya harus diperbaiki," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile