Saturday, 5 Rabiul Awwal 1444 / 01 October 2022

Saturday, 5 Rabiul Awwal 1444 / 01 October 2022

 

5 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Jus Detoks Berbahaya, Bisa Tingkatkan Risiko Diabetes

Ahad 19 Jun 2022 17:28 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Green smoothies. Jus detoks tidak mengandung protein atau serat, yang dapat mengakibatkan hilangnya massa otot dan lonjakan besar gula darah jika jusnya didominasi buah.

Green smoothies. Jus detoks tidak mengandung protein atau serat, yang dapat mengakibatkan hilangnya massa otot dan lonjakan besar gula darah jika jusnya didominasi buah.

Foto: Prayogi/Republika
Jus detoks diklaim dapat bantu turunkan berat badan dan bikin makin berenergi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menerapkan diet jus detoksifikasi diklaim bisa menurunkan berat badan dan menambah tingkat energi. Akan tetapi, ahli gizi terdaftar justru mengingatkan bahaya kesehatan di baliknya. Menurut pakar, "jus detoks" dapat meningkatkan risiko diabetes.

 

Pelaku diet jus detoks biasanya tidak mengonsumsi apa pun kecuali jus yang mengandung sayuran, buah, dan makanan lain yang dianggap sehat, seperti kacang mete. Tujuannya adalah membanjiri sistem pencernaan dengan banyak nutrisi.

Baca Juga

Dengan kata lain, pelaku diet tidak menyantap makanan padat. Mereka juga tidak memasukkan asupan seperti kopi, gula, alkohol, dan stimulan lain sehingga mendapatkan hidrasi yang cukup. Beberapa ahli gizi telah menentang gagasan "jus detoks".

Ahli gizi Rachel Clarkson yang mendirikan The DNA Dietician mengatakan tubuh manusia sudah memiliki sistem detoksifikasi yang kompleks di hati, ginjal, paru-paru, dan kulit. Tubuh terus-menerus membersihkan diri, membuang racun, dan melakukan detoksifikasi dari bahan yang tidak diinginkan 24 jam sehari.

"Tidak ada aturan minum jus yang membantu proses ini. Sayangnya, "jus detoks" tidak memiliki bukti ilmiah untuk mendukung penggunaannya. Hanya klaim kesehatan dan pemasaran pseudosains," kata Clarkson, dikutip dari laman Express, Ahad (19/6/2022).

Clarkson mengulas studi yang diterbitkan pada Agustus 2013 di jurnal British Medical, yang menemukan bahwa minum jus buah dikaitkan dengan risiko diabetes tipe dua yang lebih tinggi. Agar mendapat efek penurunan risiko diabetes, dianjurkan menyantap buah secara utuh, seperti blueberry, apel, dan anggur.

Selain itu, jus detoks tidak mengandung protein atau serat, yang dapat mengakibatkan hilangnya massa otot dan lonjakan besar gula darah jika jusnya didominasi buah. Clarkson menjelaskan, lonjakan gula darah dengan cepat diikuti oleh jatuhnya kadar gula darah.

Hal itu membuat seseorang semakin menginginkan gula, yang akibatnya memicu perasaan mudah marah dan lapar serta penurunan energi dan hilangnya fokus. Clarkson menyoroti pula kemungkinan penipisan nutrisi.

"Vitamin larut lemak yang ditemukan dalam makanan (A, E, K, dan D) tidak dapat diserap oleh tubuh saat seseorang melakukan diet "jus detoks" karena kurangnya lemak dalam jus," ujarnya.

Ahli gizi untuk jenama kesehatan Second Nature, Tamra Willner, memberi tahu konsekuensi jika diet "jus detoks" dilakukan terus-menerus. Walau diet sarat buah-buahan dan sayuran, tubuh justru kekurangan protein dan akan menyebabkan otot terkuras.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile