Thursday, 20 Muharram 1444 / 18 August 2022

Thursday, 20 Muharram 1444 / 18 August 2022

 

20 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Uni Eropa Resmi Berikan Status Kandidat kepada Ukraina

Jumat 24 Jun 2022 01:14 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Dwi Murdaningsih

Bendera Uni Eropa.

Bendera Uni Eropa.

Foto: EPA
Ukraina butuh waktu lebih dari satu dekade untuk dapat bergabung dengan Uni Eropa.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSEL -- Para pemimpin Uni Eropa pada Kamis (23/6/2022) secara resmi memberikan status kandidat kepada Ukraina untuk bergabung dengan blok 27 negara itu. Keputusan ini merupakan sebuah langkah geopolitik yang cukup berani dan menjadi momen bersejarah.

 

Keputusan untuk secara resmi memberikan status sebagai kandidat adalah simbol dari tujuan Uni Eropa untuk menjangkau negara-negara bekas Uni Soviet secara lebih luas. Meski menyandang status kandidat, Ukraina membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk dapat bergabung dengan Uni Eropa.
 
"Rakyat Ukraina milik keluarga Eropa. Masa depan Ukraina ada di Uni Eropa. Hari ini menandai awal dari perjalanan panjang yang akan kita jalani bersama," kata Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell.  
 
Invasi Rusia ke Ukraina yang berlangsung sejak 24 Februari, mendorong Kiev untuk secara resmi mengajukan status kandidat Uni Eropa. Kemudian Uni Eropa mengambil langkah untuk mempercepat persetujuannya.
 
"Masa depan Ukraina ada di Uni Eropa" ujar Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam cuitannya di Twitter.
 
Zelenksyy menyambut keputusan Uni Eropa sebagai "momen unik dan bersejarah".  Enam tahun setelah Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa, Moldova, juga diberikan status kandidat. Sementara Georgia akan mendapatkan status serupa setelah memenuhi persyaratan. 
 
Para pemimpin Uni Eropa menekankan, Ukraina dan Moldova memiliki banyak "pekerjaan rumah" yang harus dilakukan. Langkah ini adalah ekspansi paling ambisius sejak negara-negara Eropa Timur bergabung dengan Uni Eropa setelah Perang Dingin.
 
"Saya yakin bahwa mereka (Ukraina dan Moldova) akan bergerak secepat mungkin dan bekerja sekeras mungkin untuk menerapkan reformasi yang diperlukan," kata Ketua Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen dalam konferensi pers.
 
Duta besar Uni Eropa untuk Ukraina, Vsevolod Chentsov, mengatakan, lampu hijau Uni Eropa adalah sinyal bagi Moskow bahwa Ukraina, dan juga negara-negara lain dari bekas Uni Soviet, tidak dapat menjadi bagian dari lingkungan Rusia. Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, "operasi militer khusus" yang diluncurkannya di Ukraina pada akhir Februari, bertujuan untuk mencegah ekspansi Barat ke wilayah Timur. 
 
Di balik retorika kemenangan atas pemberian status kandidat Ukraina dan Moldova, ada kekhawatiran di internal Uni Eropa tentang bagaimana blok itu dapat tetap koheren karena anggotanya terus membesar. Sejarah pembentukan Uni Eropa dimulai pada 1951 sebagai organisasi enam negara untuk mengatur produksi industri. Kini Uni Eropa memiliki 27 anggota yang menghadapi tantangan kompleks, mulai dari perubahan iklim, pengaruh Cina yang semakin kuat, hingga perang yang terjadi di dekat lingkungan mereka.
 
Pekan ini, Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan, Uni Eropa harus mereformasi prosedur internalnya untuk mempersiapkan aksesi anggota baru. Dia menekankan perlunya isu-isu kunci untuk disetujui dengan mayoritas yang memenuhi syarat, ketimbang dengan suara bulat. Persyaratan untuk kebulatan suara sering menggagalkan ambisi Uni Eropa, karena negara-negara anggota dapat memblokir keputusan atau meloloskannya.
 
Keengganan atas perluasan Uni Eropa telah memperlambat kemajuan menuju keanggotaan untuk sekelompok negara Balkan seperti Albania, Bosnia, Kosovo, Montenegro, Makedonia Utara dan Serbia. Para pemimpin Uni Eropa akan kembali memberikan komitmen penuh dan tegas terhadap perspektif keanggotaan Uni Eropa di Balkan Barat.
 
Tetapi langkah cepat Uni Eropa yang secara resmi memberikan status kandidat kepada Ukraina, akan membuat negara-negara Balkan merasa disingkirkan. Hal ini berisiko bagi Uni Eropa, karena Rusia dan China dapat memperluas pengaruh mereka di kawasan Balkan.

sumber : reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile