Ahad 26 Jun 2022 08:32 WIB

Fasilitas Penelitian Nuklir Ukraina Jadi Target Serangan Rusia

Fasilitas penelitian nuklir Ukraina di Kharkiv menjadi target serangan Rusia..

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Bilal Ramadhan
...
Foto: AP/Efrem Lukatsky
Petugas SAR dan penduduk setempat mengambil mayat dari bawah puing-puing sebuah bangunan setelah serangan udara Rusia di Lysychansk, wilayah Luhansk, Ukraina, Kamis, 16 Juni 2022. Fasilitas penelitian nuklir Ukraina di Kharkiv menjadi target serangan Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV – Serangan Rusia telah merusak fasilitas penelitian nuklir di kota Kharkiv, Ukraina. Jika serangan terus berlanjut, hal itu bisa mempengaruhi keadaan keselamatan nuklir dan radiasi.

Inspektorat Pengaturan Nuklir Negara Ukraina mengungkapkan, serangan Rusia merusak beberapa bangunan dan infrastruktur fasilitas penelitian nuklir Kharkiv. Namun daerah yang menampung bahan bakar nuklir tidak terdampak serangan. Tingkat radiasi di sana pun normal.

Baca Juga

“Kemungkinan kerusakan baru, yang secara langsung dapat mempengaruhi keadaan keselamatan nuklir dan radiasi, tetap tinggi karena penembakan oleh pasukan Rusia,” kata Inspektorat Pengaturan Nuklir Negara Ukraina dalam sebuah pernyataan, Sabtu (25/6/2022).

Saat ini Rusia tengah mengintensifkan serangan di wilayah Donbas, terutama Luhansk. Sebelum menyerang Ukraina, Moskow diketahui telah mengakui kemerdekaan Luhansk dan Donetsk. Sebelum pengakuan tersebut, dua wilayah itu dikuasai kelompok milisi pro-Rusia.

Selain Donbas, Rusia pun sedang menggempur Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina yang terletak dekat perbatasan kedua negara. Organisasi hak asasi manusia (HAM) Amnesty International telah menuding Rusia melakukan kejahatan perang di kota tersebut.

Amnesty International mengungkapkan, selama 14 hari penyelidikan pada April dan awal Mei, mereka menemukan bukti bahwa Rusia telah menggunakan amunisi tandan dan ranjau yang tersebar di Kharkiv.

“Pemboman berulang terhadap lingkungan perumahan di Kharkiv adalah serangan membabi buta yang menewaskan dan melukai ratusan warga sipil, dan dengan demikian merupakan kejahatan perang,” kata Amnesty dalam laporannya pada 13 Juni lalu.

Konsultan penelitian di Amnesty International, Jean-Baptiste Gallopin mengungkapkan, baik Rusia maupun Ukraina tidak menandatangani perjanjian internasional yang melarang penggunaan amunisi tandan, mencakup bom, roket, atau peluru meriam yang meledak dan menyebarkan bom-bom kecil di kawasan luas.

Namun dia menekankan, penggunaan senjata semacam itu masih merupakan kejahatan perang jika penargetannya tak pandang bulu atau dapat menyebabkan jatuhnya korban sipil.

Gallopin mengambil contoh serangan bom tandan di taman bermain di Jalan Mira Kharkiv. Serangan itu menyebabkan sembilan warga sipil tewas dan 35 lainnya mengalami luka-luka.

Menurut Gallopin, Amnesty juga menemukan bahwa pasukan Ukraina melanggar hukum humaniter internasional dengan menempatkan artileri di dekat bangunan tempat tinggal. Hal itu menarik tembakan atau serangan dari pihak Rusia.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement