Tuesday, 18 Muharram 1444 / 16 August 2022

Tuesday, 18 Muharram 1444 / 16 August 2022

 

18 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Pengamat: Surya Paloh Pandai Menangkap Peluang

Senin 27 Jun 2022 09:26 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Bilal Ramadhan

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh. Pengamat politik menilai Ketum Partai Nasdem Surya Paloh pandai menangkap peluang.

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh. Pengamat politik menilai Ketum Partai Nasdem Surya Paloh pandai menangkap peluang.

Foto: Prayogi/Republika.
Pengamat politik menilai Ketum Partai Nasdem Surya Paloh pandai menangkap peluang.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Pakar politik Universitas Airlangga (Unair) Ali Sahab mengomentari sikap Partai Nasdem yang mengumumkan Anies Baswedan, Andika Perkasa dan Ganjar Pranowo sebagai bakal calon presiden yang bakal diusung di Pilpres 2024.

 

Menurut Ali, Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh, mampu melihat sosok potensial untuk menjadi calon presiden, sehingga berani mengumumkan bakal calon lebih awal dari partai lainnya.

Baca Juga

“Surya Paloh mampu melihat peluang siapa orang-orang yang potensial untuk maju sebagai Capres,” ujar Ali, Senin (27/6/2022).

Ali berpendapat, Ganjar Pranowo bisa saja dicalonkan oleh Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang dibentuk Golkar, PPP, dan PAN. Anies Baswedan bisa juga tidak jadi dicalonkan.

Hal itu, lanjutnya, dikarenakan Prabowo yang disebut-sebut lebih memilih berduet dengan Muhaimin Iskandar. Sedangkan Puan Maharani diperkirakan akan mencari sosok selain Anies Baswedan.

“Anies agak sulit berpasangan dengan Puan karena Surya Paloh sudah tidak mesra dengan Megawati, kecuali ada tokoh yang bisa menyatukan,” ujar Ali.

Ali menjelaskan, maju atau tidaknya seorang tokoh akan dikembalikan pada keputusan partai yang berkoalisi. Hal itu merupakan dampak dari kebijakan undang-undang pemilu yang menetapkan presidential threshold (PT) 20 persen.

Ali juga menilai, PT 20 persen adalah angka yang terlalu tinggi. Menurutnya, angka tersebut harus dikurangi agar lebih banyak pilihan bagi masyarakat dalam memilih presiden.

“PT sebaiknya tidak setinggi itu, misal bisa 10 persen, sehingga bisa banyak calon yang maju. Masyarakat banyak pilihannya,” kata Ali.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile