Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

15 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Kesucian Hati atau Fisik, ini Penjelasannya

Selasa 28 Jun 2022 20:30 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Takwa/taqwa

Ilustrasi Takwa/taqwa

Foto: Pixabay
Ada empat macam kesucian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Mufti Mesir, Syekh Dr Ali Jum'ah menyampaikan, kesucian badan atau fisik sebagaimana diatur oleh para ulama dalam kitab-kitab fiqih pada hakekatnya bukanlah yang paling utama. Sebab yang paling utama di sisi Allah SWT atas hamba-hamba-Nya adalah kesucian hati.

Syekh Jum'ah, mengutip pandangan Al-Ghazali, menyampaikan bahwa ada empat macam kesucian. Empat itu ialah kesucian badan dari hadats dan dengki, kesucian tubuh dari maksiat dan dosa, kesucian hati dari sifat-sifat yang tercela, dan kesucian hati dari selain Allah SWT.

Baca Juga

"Kesucian hati itulah yang paling utama, yang berarti bahwa hati bersih dari keburukan. Karena hati sejatinya adalah rumah Allah SWT," tutur dia seperti dilansir Elbalad, Selasa (28/6/2022).

Allah SWT berfirman, "Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya..." (QS Al-Ahzab ayat 4) Syekh Jumah mengatakan, orang yang memiliki kesucian hati berarti ia bebas dari sifat-sifat keburukan. Seperti pelit, iri hati, dengki, kebencian, dendam, kesombongan dan egois.

Selain itu Syekh Jumah juga menyinggung soal mata seorang hamba yang tidak akan tersentuh api neraka. Dari Abdullah bin Abbas RA, dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Dua Mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka adalah mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga dalam perang sabilillah."

Dalam riwayat Anas bin Malik RA, Nabi SAW bersabda, "Dua mata yang selamanya tidak akan disentuh oleh api neraka yakni mata yang semalaman menjaga kaum muslimin di peperangan dan mata yang menangis karena takut pada Allah."

Para ulama telah menyampaikan, apa yang dilarang untuk dilakukan maka artinya dilarang untuk didengar dan apa yang dilarang untuk didengar berarti dilarang untuk dilihat. Mensucikan telinga adalah tidak mendengarkan apa yang dilarang Allah untuk didengarkan, seperti dusta, fitnah, gosip, dan menghujat.

Sumber: https://www.elbalad.news/5336329

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile