Wisata Mahoni Dempok, Dari Kuliner Ikan, Berkuda, Sampai Naik Perahu

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq

Suasana Wisata Mahoni Dempok di Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Suasana Wisata Mahoni Dempok di Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, Jawa Timur. | Foto: Republika/Wilda Fizriyani

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Ada beragam pilihan untuk bisa berwisata di wilayah Malang Raya. Salah satunya Wisata Mahoni Dempok di Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, yang bisa menjadi alternatif liburan untuk keluarga.

Lokasi Wisata Mahoni Dempok tidak terlalu jauh dari pusat Kabupaten Malang di Kecamatan Kepanjen. Masyarakat hanya perlu menggunakan kendaraan pribadi, baik itu sepeda motor maupun mobil. Akses jalan menuju lokasi juga cukup baik sehingga bisa menjadi pilihan untuk berwisata bersama keluarga.

Pengawas Wisata Mahoni Dempok, Bambang Sutrisno mengatakan, tempat wisatanya banyak menyajikan suguhan yang menarik untuk para wisatawan. "Yang jelas ini yang utama itu wisata kulinernya, makanan-makanan tradisional terutama dari masyarakat lalu ikan," kata Bambang kepada Republika.co.id.

Lokasi Wisata Mahoni Dempok sendiri berada di bantaran Kali Brantas. Sebab itu, pihaknya juga menyediakan wisata perahu dari para pegiat wisata sekitar. Wisatawan hanya perlu mengeluarkan biaya Rp 5.000 per orang untuk bisa merasakan sensasi menaiki perahu di atas aliran Sungai Brantas.

Selain itu, pengelola juga menyajikan berbagai wahana permainan untuk anak-anak. Biaya wahana ini juga beragam, yakni dari Rp 15 ribu sampai Rp 20 per orang untuk tiap jamnya. Kemudian juga ada wisata berkuda yang dibanderol Rp 5.000 per jalan.

Menurut Bambang, pihaknya juga membangun embung yang berfungsi untuk menahan sedimentasi yang masuk bersaman dengan aliran Kali Brantas. Langkah ini juga termasuk bukti peran serta dalam membantu program Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. "Ini dilakukan supaya lumpur tidak ikut ke sungai. Jadi tertahan di situ sedangkan air tetap mengalir terus ke bendungan," ujarnya.

Pada proses pengembangan, Bambang mengaku turut melibatkan Pokdarwis setempat. Hal ini bertujuan agar tetap mengoptimalkan teman-teman yang berada di sekitar tempat wisata. Sebab itu, 99 persen pegawai di Wisata Mahoni Dempok merupakan warga sekitar.

Menurut Bambang, keberadaan Wisata Mahoni Dempok sebagai tempat berwisata sudah ada sejak 25 tahu lalu. Namun untuk pengelolaan dari BUMDES baru terlaksana sekitar 2014. Langkah tersebut sebenarnya hanya untuk membantu pengembangan wisata agar lebih baik lagi.

Terdampak pandemi

Wisata Mahoni Dempok terus berkembang hingga sekarang. Hal ini terbukti dari jumlah pengunjung yang selalu banyak setiap harinya. Pada hari kerja, pengelola bisa menerima kunjungan sebanyak 100 sampai 150 orang per hari. Sementara itu, pada akhir pekan dapat mencapai 300 sampai 400 orang.

Jumlah kunjungan ini jelas mengalami peningkatan dibandingkan masa pandemi Covid-19. Saat itu, jumlah kunjungan di Wisata Mahoni Dempok menurun hingga 80 persen. "Pandemi memang sudah memukul semua aspek kehidupan. Dan itu tidak hanya di Wisata Mahoni Dempok, tetapi tempat wisata lainnya juga mengalami hal sama," katanya.

Untuk bisa menikmati berbagai suguhan di Wisata Mahoni Dempok, pengunjung hanya perlu menyediakan Rp 2.000 per orang sebagai tiket masuk. Jumlah ini belum termasuk biaya parkir motor dan mobil yang dibawa pengunjung.

Adapun untuk jam operasional, Bambang mengatakan, tidak ada jadwal pasti mengenai hal tersebut. Jadwal operasional bersifat situasional karena menyesuaikan keramaian pengunjung yang tiba di lokasi. Jika pengunjung sudah tiba di lokasi pukul 07.00 WIB, maka pihaknya bisa langsung membukanya.

Keberadaan tempat Wisata Mahoni Dempok nyatanya mendapatkan respons positif dari pengunjung asal Wagir, Kabupaten Malang, Briliana Nur. Perempuan berusia 26 tahun menilai, tempat wisata tersebut bagus dan bisa menjadi referensi wisata keluarga.

Pasalnya, biaya masuk untuk ke tempat wisata tersebut tergolong murah. "Terus makanan cukup ramah di kantong. Intinya, ekonomis kalau buat keluarga menengah ke bawah," jelas perempuan berhijab ini.

Di samping itu, perempuan disapa Ana ini juga menilai, infrastruktur di tempat wisata sudah cukup bagus. Hal ini dibuktikan dengan tersedianya sejumlah fasilitas umum. Beberapa di antaranya seperti toilet umum dan mushala sebagai tempat ibadah untuk wisatawan beragama Islam.

Selain itu, Ana berpendapat, tempat wisata ini juga sudah termasuk ramah anak. Meskipun berada di pinggir sungai, pengelola rutin memberikan peringatan agar anak-anak tidak berada di dekat sungai. Anak-anak diperbolehkan berada di area tersebut selama dalam pengawasan orang tua.

Karena ini merupakan kunjungan pertamanya, Ana mengimbau, wisatawan lain untuk memperhatikan jadwal tiba di lokasi. Dia merekomendasikan wisatawan untuk datang lebih pagi karena masih sepi. Dengan demikian, wisatawan bisa merasakan dan mendapatkan wahana-wahana yang tersedia di lokasi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Terkait


Pria 49 Tahun di Malang Sekap Remaja Perempuan 19 Tahun

Dalam 12 Hari, Polres Malang Berhasil Ungkap Kasus Kejahatan Sebanyak Ini

Libur Nasional, Taman Puring Ramai Dikunjungi Warga

Kabupaten Malang Lakukan Deteksi Wabah PMK Hewan Ternak

Arus Lalu Lintas Lebaran di Kabupaten Malang Masih Cukup Landai

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark