Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

15 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Kenali Tanda Sakit Alzheimer, Berpakaian tidak Rapi Hingga tidak Bisa Parkir Mobil

Rabu 29 Jun 2022 03:13 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nora Azizah

Beberapa tanda sakit alzheimer terlihat dari keterampilan yang menurun.

Beberapa tanda sakit alzheimer terlihat dari keterampilan yang menurun.

Foto: Republika
Beberapa tanda sakit alzheimer terlihat dari keterampilan yang menurun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kehilangan memori adalah gejala utama penyakit alzheimer. Penyakit alzheimer tercatat sudah mempengaruhi 5,8 juta orang di AS. Beberapa tanda yang sering muncul, yakni sering lupa, lekas marah, dan kesulitan berkomunikasi.

Pada Awal bulan ini, para peneliti mengatakan, mereka telah menemukan tanda lain dari penyakit alzheimer, yaitu orang tua yang lebih mudah memberikan uang kepada orang asing memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit neurodegeneratif. "Kesulitan menangani uang dianggap sebagai salah satu tanda awal penyakit alzheimer," kata penulis utama studi dan profesor neuropsikologi, Duke Han dilansir New York Post, Rabu (29/6/2022).

Baca Juga

Para peneliti di University of Southern California dan Bar-Ilan University University di Israel menemukan hubungan antara membagikan uang dan tanda-tanda awal penyakit alzheimer. Peneliti mengamati 67 lansia berusia hampir 70 tahun dan memasangkan masing-masing dengan seseorang yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Mereka kemudian diberi 10 dolar AS (sekitar Rp 148 ribu) dan diminta membaginya.

Peserta yang lebih mudah memberikan uang ditemukan memiliki kondisi otak yang lebih lemah, yang berarti mereka lebih mungkin untuk mengalami alzheimer. Hasilnya dipublikasikan dalam Journal of Alzheimer's Disease.

Kedua, selera humor yang berubah. University College London melakukan penelitian, di mana mereka mensurvei 48 teman dan keluarga dari mereka yang menderita alzheimer dan demensia frontotemporal tentang jenis komedi yang disukai, yakni sejenis komedi satir atau komedi absurd. 

Ketiga, kehilangan kontrol. Saat otak pasien berubah, mereka mungkin perlahan kehilangan kemampuan untuk mengevaluasi apa yang mereka katakan dan bagaimana mereka bertindak. Hal itu karena bagian otak yang mengontrol filter internal, yaitu korteks prefrontal frontal, diketahui menyusut seiring bertambahnya usia.

"Situasi ini bisa sangat membingungkan, menyedihkan, mengejutkan, atau membuat frustrasi bagi seseorang dengan demensia, serta bagi mereka yang dekat dengan mereka," tulis Alzheimer's Society.

Organisasi itu menjelaskan bahwa orang dengan demensia mungkin tidak mengerti perilaku mereka dianggap tidak pantas. Beberapa dari situasi ini, termasuk pasien yang secara tidak sengaja kasar atau tidak sopan. Dalam beberapa kasus yang tidak menguntungkan, misalnya, menyentuh orang lain secara tidak tepat. Mengumpat juga bisa menjadi penanda, karena penyakit melemahkan hambatan mereka.

Keempat, lemari baru. Penyakit ini bisa membuat Anda sulit untuk berpakaian di pagi hari. Ketika dibiarkan tanpa pengawasan, penderita alzheimer dapat memilih pakaian yang tidak cocok dan mungkin tidak sesuai dengan cuaca. 

Penelitian yang diterbitkan dalam Sociology of Health and Illness mempelajari 38 orang di panti jompo. Salah satu peserta studi, Melissa, membahas perubahan kebiasaan berpakaian ayahnya setelah menderita alzheimer.

“Saya belum pernah melihat ayah berantakan. Tidak pernah. Sampai hari itu saya muncul di rumah dan dia duduk di sana dengan pakaian kacau, yang benar-benar menyakiti saya karena saya tidak terbiasa dengan itu,” ujar Melissa.

Kelima, parkir buruk. Penurunan keterampilan mengemudi, terutama terlihat di tempat parkir, bisa menjadi tanda awal alzheimer. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Penelitian dan Terapi Alzheimer menemukan bahwa mereka yang didiagnosis dengan alzheimer dini lebih cenderung mengemudi lebih lambat dan mengalami perubahan yang lebih mencolok dalam kebiasaan mengemudi khas mereka. 

Studi ini cukup berhasil untuk membuat model yang hanya didasarkan pada kebiasaan mengemudi untuk memprediksi apakah orang menderita alzheimer, dan ditemukan untuk mendiagnosis secara akurat pada 90 persen kasus.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile