Thursday, 20 Muharram 1444 / 18 August 2022

Thursday, 20 Muharram 1444 / 18 August 2022

 

20 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

17 Agustus 2022, Semoga Indonesia Merdeka dari Covid-19

Senin 04 Jul 2022 07:04 WIB

Red: Andri Saubani

Peserta melakukan gerakan yoga saat mengikuti Unique Bali Festival (UBF) 2022 di kawasan Sanur, Denpasar, Bali, Ahad (3/7/2022). Festival yoga yang diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia itu diselenggarakan untuk mendukung bangkitnya pariwisata Bali yang sempat terpuruk karena kasus COVID-19.

Peserta melakukan gerakan yoga saat mengikuti Unique Bali Festival (UBF) 2022 di kawasan Sanur, Denpasar, Bali, Ahad (3/7/2022). Festival yoga yang diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia itu diselenggarakan untuk mendukung bangkitnya pariwisata Bali yang sempat terpuruk karena kasus COVID-19.

Foto: ANTARA/Fikri Yusuf
Di tengah meningkatnya kembali infeksi Covid-19, angka kematian saat ini rendah.

Oleh : Andri Saubani, jurnalis Republika.

REPUBLIKA.CO.ID, Indonesia sudah merasakan tiga kali gelombang infeksi Covid-19 selama pandemi. Gelombang pertama pada awal 2021, kedua pada Juni-Agustus 2021 dan terakhir pada Januari-Maret 2022. Sebagian epidemiolog memprediksi Indonesia saat ini tengah menuju pada gelombang keempat infeksi yang ditandai dengan tren kenaikan kasus Covid-19 sejak akhir Juni hingga saat ini yang angkanya bisa mencapai di atas 2.000 kasus per hari. 

 

Jika dilihat dari tren kurva peta sebaran Covid-19, gelombang infeksi di Indonesia selalu terjadi seusai masa libur setelah tahun baru atau Idul Fitri. Ledakan kasus positif Covid-19 terbesar adalah seusai Idul Fitri 2021 dan awal tahun 2022.  Rekor tertinggi tambahan positif Covid-19 dalam sehari terjadi pada 14 Februari 2022 dengan 64.718 kasus.

Meskipun sepertinya pandemi belum menemui kata akhir dan virus Corona masih terus bermutasi menjadi varian baru, kabar baiknya bagi umat manusia adalah ragam vaksin Covid-19 yang didistribusikan ke berbagai belahan bumi dan disuntikkan ke ratusan juta atau bahkan miliaran manusia terbukti telah menjadi ‘game changer’. Vaksinasi telah berhasil mengurangi tingkat keparahan dan juga angka kematian pasien covid dibandingkan dengan kondisi saat vaksin belum ditemukan.

Sebagai ilustrasi, saat varian Delta ‘mengamuk’ di Indonesia pada periode Juni-Juli-Agustus tahun lalu, kasus harian pada kisaran 10 ribu sampai 50 ribu kasus dengan kematian 500-2.000-an kasus per hari. Seiiring dengan terus bertambahnya cakupan vaksinasi dosis lengkap (dua dosis), angka kematian juga terus menurun. Bahkan, saat gelombang ketiga infeksi pada Februari 2022 lalu kasus harian Covid-19 lebih tinggi dari saat masa penularan Delta, angka kematiannya ‘hanya’ pada kisaran 200-400-an kasus per hari.

Selain cakupan vaksinasi yang semakin masif dan meluas, varian Omicron yang tidak lebih ganas dari Delta meski menular lebih cepat juga menjadi penentu mengapa angka kematian Covid-19 pada masa gelombang ketiga infeksi hingga saat ini bisa dibilang terkendali. Begitu juga saat dua subvarian Omicron, BA.4 dan BA.5 telah menyebar sejak awal Juni 2022, penularannya yang sangat cepat hanya memunculkan gejala-gejala ringan pada orang yang terinfeksi.

Berdasarkan studi di Hongkong yang dirangkum oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDIP). perbedaan varian Delta, Omicron, dan varian yang lebih awal adalah infeksi di bronkus. Varian Omicron memiliki laju infeksi dan replikasi 70 kali lebih tinggi dibandingkan Delta tetapi hanya sampai di tenggorok, sementara, replikasi di jaringan paru hanya 10 kali. Fakta itu berbanding terbalik dengan replikasi cepat varian Delta di paru yang berakibat tingkat keparahan pada pasien lebih tinggi.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 dalam sepekan terakhir, sebanyak 31 orang wafat akibat Covid-19. Rata-rata setiap harinya saat ini, angka kematian berada di bawah angka 10 kasus. Pada Kamis (30/6/2022) misalnya, tercatat enam kasus kematian akibat Covid-19.

Secara nasional, angka positivity rate juga masih di bawah 5 persen. Sementara, keterisian tempat tidur di kisaran 2,3 persen dan 2,4 persen. Merujuk pada statistik milik Satgas Covid-19 saat ini, kondisi pandemi di Indonesia saat ini benar-benar terkendali.

Pemerintah memang memprediksi puncak infeksi subvarian BA.4 dan BA.5 akan terjadi pada akhir bulan ini, di mana kasus harian kemungkinan bisa tembus sampai 20 ribuan kasus per hari. Namun, asalkan nantinya kita bisa tetap mempertahankan angka keterisian RS dan fatality rate serendah mungkin, kondisinya akan aman-aman saja seperti sekarang.

Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya adalah, sampai kapan kita akan terus dalam kondisi seperti ini? Apakah kita hanya harus puas atas kondisi pandemi terkendali? Kapankah masa di mana kita sudah bisa merasa benar-benar aman dari Covid-19? 

Selama virus Corona masih terus bermutasi, pandemi sepertinya masih belum akan berakhir dalam waktu dekat. Namun, sebagai negara yang pernah merasakan dahsyatnya kecepatan penularan dan infeksi Covid-19, Indonesia punya modal menjadi salah satu negara dengan persentase imunitas yang tinggi di kalangan warganya saat ini.

Hasil sero survei pertama yang digelar pemerintah dan tim dari FKM UI pada November-Desember 2021 menunjukkan 86,6 persen penduduk Indonesia sudah memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2. Pada tahap kedua April 2022, antibodi masyarakat meningkat menjadi 99,2 persen.

Saat ini, pemerintah tengah menggelar sero survei lanjutan yang hasilnya kemungkinan akan diumumkan pada Agustus 2022. Dan semoga, saat hasil sero survei ketiga nanti diumumkan bertepatan dengan HUT ke-77 Kemerdekaan RI, negara ini juga bisa merdeka dari Covid-19. Aamiin.  

*jurnalis Republika

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile