Tuesday, 18 Muharram 1444 / 16 August 2022

Tuesday, 18 Muharram 1444 / 16 August 2022

 

18 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Tiga Dubes Barat untuk China Layangkan Kritik ke Rusia

Senin 04 Jul 2022 12:09 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha

Duta Besar Amerika Serikat untuk Cina Nicholas Burns, di sebelah kiri, berbicara di dekat Duta Besar Inggris untuk Cina, Caroline E. Wilson dan Duta Besar Prancis untuk Cina Laurent Bili selama sesi pleno berjudul

Duta Besar Amerika Serikat untuk Cina Nicholas Burns, di sebelah kiri, berbicara di dekat Duta Besar Inggris untuk Cina, Caroline E. Wilson dan Duta Besar Prancis untuk Cina Laurent Bili selama sesi pleno berjudul

Foto: AP Photo/Ng Han Guan
Sejauh ini, Beijing diketahui belum mengecam tindakan Rusia terhadap Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Duta besar (dubes) Amerika Serikat (AS), Prancis, dan Inggris untuk China melayangkan kritik Rusia karena menginvasi Ukraina. Sejauh ini, Beijing diketahui belum mengecam tindakan Moskow terhadap Ukraina.

 

Kritik terhadap Rusia dilayangkan saat dubes AS, Inggris, dan Prancis menghadiri World Peace Forum yang diselenggarakan Tsinghua University, Senin (4/7/2022). Dubes AS untuk China Nicholas Burns mengatakan, perang Rusia-Ukraina adalah ancaman terbesar bagi tatanan dunia global.

Baca Juga

Burns berharap Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Cina berhenti menyebarkan “propaganda Rusia” yang menyalahkan Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) atas perang tersebut. “Saya berharap juru bicara kemenlu (China) juga berhenti berbohong tentang laboratorium senjata biologis Amerika, yang tidak ada di Ukraina,” ujarnya kepada audiens yang terdiri dari mahasiswa, diplomat asing, dan akademisi China.

Sama seperti Burns, Dubes Inggris untuk China Caroline Wilson menyampaikan kekhawatiran serupa soal dampak perang Rusia-Ukraina terhadap tatanan global. “Jika Rusia memiliki jalannya, kita akan mengalami anarki global,” ucapnya.

Sementara Dubes Prancis untuk China Laurent Bili menekankan, perang Rusia-Ukraina bertentangan dengan semua prinsip dasar tatanan internasional. Wilson dan Bili kemudian sama-sama menolak anggapan China bahwa suplai bantuan senjata Eropa ke Ukraina justru memperpanjang perang.

Juru bicara Kemenlu China Zhao Lijian secara terpisah menanggapi kritik dubes AS yang menyebut negaranya menyebar kebohongan terkait konflik di Ukraina. “Para pejabat terkait di pihak AS, bukan pihak China, yang telah menyebarkan informasi palsu dan kebohongan,” ujarnya dalam pengarahan pers.

Bulan lalu, Presiden China Xi Jinping telah melakukan percakapan via telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pada kesempatan itu, Xi menyampaikan kesiapan negaranya membantu proses penyelesaian konflik di Ukraina.

“Semua pihak terkait harus mengambil sikap yang bertanggung jawab, dengan demikian mempromosikan penyelesaian yang benar dari krisis di Ukraina. China siap untuk terus memainkan peran konstruktifnya,” kata Xi pada 15 Juni lalu, dilaporkan China Central Television.

Xi menekankan, China mengambil posisi independen terkait krisis Ukraina dengan mempertimbangkan fakta dan realitas sejarah. “Kami berperan aktif dalam menjadi perdamaian dalam skala global. Begitu pula kami berkontribusi menjaga stabilitas tatanan ekonomi dunia,” ucapnya.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile